Begitu masuk, kami langsung disambut oleh spot-spot foto yang Instagramable kata anak zaman sekarang mah. Ada sepeda gantung, becak terbang, flying fox, yang tengah diserbu pengunjung.

Kami langsung menuju wahana untuk anak-anak. Terdapat wahana untuk anak-anak tanpa tiket lagi. Seperti ayunan, panjat tebing, perosotan, jembatan ketangkasan. Oh iya untuk tiket masuk bisa dituker ke satu wahana atau sepotong roti dan satu botol air mineral.

Saat Rayya menjajal jembatan ketangkasan sepatunya terperosok ke tanah yang becek dan hendak menangis. Ibunya pun sudah bete melihat anaknya demikian “Ya udah, pulang aja yuk!” Ujarnya kesal. Saya yang sedang foto Nussa di bawah payung warna warni segera menetralkan suasana. “Udah Bun, Rayya ayah yang urus! Bunda tolong jagain Nussa.” Seru saya

Saya pun membawa Rayya ke kamar mandi untuk mencuci sepatu dan membersihkan kakinya. Setelah itu lanjut main tanpa alas kaki kotor-kotoran. Sayang tak lama berselang turun hujan. Kami pun makan terlebih dahulu di saung sambil menunggu hujan reda. Untuk harga perporsi makan cukup mahal 40 ribu ke atas. Nasi Padang yang serba 13 ribu di sini 40-50 ribuan. Tapi tak mengapa, itu wajar, namanya juga tempat wisata, nggak tiap hari ini. He

Setelah hujan reda, kami menukarkan satu tiket untuk Rayya jajal flying fox, sementara satu tiket ditukerkan ke roti dan air mineral, satu lagi rencananya mau saya pakai untuk main flying fox sebelum pulang, eh terpotong waktu istirahat karena memasuki waktu dhuhur. Nunggu hingga pukul 13.00 WIB petugasnya tak kunjung siap. Akhirnya kami pun pulang. Nanti rencana ke sana lagi nginep di glamping yang harganya konon 800 ribuan permalam.


