Acara bincang-bincang diawali dengan penyerahan bantuan alat podcast dari Pertamina Hulu Indonesia Zona 10 Tarakan Field.

Selain itu dirangkaikan dengan penetapan dan pengukuhan Duta Baca Kalimantan Utara terpilih, Vickyko Romana Putra.

Dalam sambutannya Pj. Walikota Tarakan, Dr. Bustan mengajak agar para peserta membangun kesadaran kolektif akan pentingnya literasi. Menurutnya literasi bukan sekadar membaca, tapi menganalisis dan menerapkan apa yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengajak agar menjadikan aktivitas membaca sebagai gaya hidup, juga identitas masyarakat Kota Tarakan sebagi masyarakat yang berbudaya dan literat.


“Dengan literasi yang kuat diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Kota Tarakan. Acara ini memberi semangat baru bagi pegiat literasi Kalimantan Utara. Selain itu kami juga sangat senang menjadi tuan rumah. Semoga acara ini memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk pembangunan literasi di Kalimantan Utara,” ungkap Dr. Bustan dalam sambutannya.

Hal senada disampaikan Nelwati Sikumbang, Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Menurutnya melalui literasi dapat membentuk sumber daya manusia yang unggul. Literasi mampu membawa masyarakat pada kesejahteraan. Literasi mendorong masyarakat untuk hidup lebih baik.

Narasumber Bincang-bincang Besama Duta Baca Indonesia Berdaya Dengan Buku di Kota Tarakan adalah: Meisa Ruslina (Bunda Literasi Kota Tarakan), Dharmawati (Duta Baca Kalimantan Utara), dan Rendy Aditya (Ketua Forum TBM Kalimantan Utara). Ketiganya berbicara seputar potensi dan hambatan gerakan literasi di Kalimantan Timur.

Bunda Literasi Kota Tarakan, Meisa Ruslina menyampaikan pentingnya masa golden age anak-anak. Para orang tua harus menyiapkan masa itu. Peran orang tua dalam membentuk karakter anak terjadi pada masa tersebut. Menurutnya jika para orang tua ingin anak-anaknya gemar membac maka banyak-banyaklah membacakan cerita pada masa golden age anak.

Sementara itu Dharmawati, Duta Baca Kalimantan Utara 2020-2024 menegaskan bahwa minat baca masyarakat di Kalimantan Utara sebetulnya bagus. Pengalaman ke berbagai daerah hingga 241 yang dibantu dana CSR menunjukkan bahwa sebetulnya permasalahan minat baca disebabkan tidak ada buku yang sesuai dengan kebutuhan anak. Maka ia membuat Gerakan Lawan Unesco, lembaga yang mensurvei Indonesia dengan minat baca rendah.

Rendy Aditya dalam paparannya menyampaikan teknik mengangkat potensi daerah dan kearifan lokal melaui tulisan. Menurutnya Kalimantan Utara memliki banyak sekali kearifan lokal, yang jika dituliskan akan sangat menarik. Ia juga mengungkapkan dirinya beberapa kali menulis kearifan lokal yang ada di Kota Tarakan dalam berbagai macan bentuk tulisan, dalam cerpen dan puisi.

Acara bincang-bincang dipandu oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong. Setiap peserta yang aktif bertanya mendapatkan hadiah berupa buku, hasil dari lomba menulis konten lokal yang diterbitkan Perpusnas Press. Setelah acara bincang-bincang selesai, Gol A Gong meneruskan acara dengan pelatihan menulis potensi daerah Kalimantan Utara dengan peserta 20 orang.
Rudi Rustiadi





