FGD Komunitas Flores Timur dengan Kemendikbudristek RI

Ya, itulah gunakan kami. Sekitar 30 komunitas yang ada di Flores Timur dikumpulkan. Diantaranya CIG, Laskar Kiu, Lamaholot Creative, Simpasio, Qwatek Handy craf , Titik Kumpul , Baku Dapa dan lain lain . Kehadiran kami disana dalam porsi untuk menceritakan tentang apa yang sudah kami buat dan apa yang menjadi kendala dalam menjalankan Komunitas untuk menemukan benang merah permasalahan dalam upaya mengaktifkan ruang publik.

Agenda yang digelar Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kemendikbudristek RI dipandu Silvester Petara Hurit, menghadirkan pembicara seniman dan kurator Arief Yudi dan Berto Tukan Staf Ahli Dirjen Kebudayaan RI, Hilman Farid.

Pada awalnya Silvester Petara Hurit memberikan kesempatan kepada Arief Yudi untuk menjelaskan maksud dari FGD kali ini. Namun Arief Yudi lebih memilih untuk banyak mendengar cerita dari komunitas yang hadir.

Berto Tukan melemparkan pertanyaan pada yang hadir, “Sejauh apa kawan-kawan yang hadir sebagai perwakilan komunitas, memandang bertumbuh dan berkembangnya Komunitas saat ini?” Masing-masing perwakilan komunitas menjawab dan menceritakan apa yang sudah mereka lakukan secara umum. Ditemukan permasalahan dalam menghidupkan komunitas adalah saat semangat tumbuh tapi pada beberapa hal masih terkendala oleh masalah perizinan dan administrasi .

Hal ini dikeluhkan juga oleh Felyn dari Baku Dapa saat bercerita, “Susahnya meminta izin untuk kapal-kapal dari luar bersandar di Flores Timur.” Seperti kapal Arka Kinari beberapa waktu lalu. Selain itu diperhatikan juga sarana prasarana bagi komunitas yang minim untuk semangat yang besar.

Sementara Saiful Bethan dari Lamaholot Creative mendorong untuk bisa dibentuk Dewan Kesenian dan juga gedung pertunjukan yang layak bagi komunitas-komunitas yang ingin mengekspresikan diri. Hal senada juga disampaikan Maria Kia, yang sangat membutuhkan ruang ekspresi untuk anggota Komunitasnya di PewArta.

Rentang jarak bertumbuh antar satu komunitas dengan komunitas lain sekitar 20 tahun. Wajar jika ada perbedaan pandangan. Tapi lewat relasi ini, komunitas yang hadir optimis dan lebih menghidupkan ruang publik di Flores yang kaya akan budaya, keindahan alam dan sejarahnya. Semangat kreativitas tersebut akan terealisasi juga dengan dukungan dari pihak terkait, dalam hal ini Pemerintah pusat maupun daerah.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==