Aku merasa gagah dan dengan berlebihan gerakan-gerakan kedua kakiku sengaja mempertontonkan kedua sepatu Air Jordan itu. Para peserta yang kebanyakan perempuan dan dari outfit yang dikenakan bermerek, senyam-senyum saja.
“Sepatunya bagus, Pak,” seorang peserta nyeletuk.

“Iya. Ini sepatu sudah saya pakai ke mana-mana,” aku berbohong. Ya, aku merasa seperti Michael Jordan! Pebasket termashur seantero jagat dengan gerakan “airwalk Michael Jordan” itu betul-betul merasuki jiwaku ketika Minggu pagi tadi aku mendapatkan sepatu “Air Jordan” ori seharga Rp. 400 ribu di car free day. Ada lapak yang menjual sepatu-sepatu bekas kualitas impor. Sepatu yang kupakai harga normalnya selangit!
Pelatihan selesai sekitar pukul 12:00. Para peserta menyerbu minta ber-swafoto. Aku harus melayani mereka. Ada yang ingin berfoto berdua ada juga yang ingin berfoto bertiga, berempat, dan berkelompok. Peserta pelatihan 95% perempuan. Tubuh mereka harum diselimuti parfum mahal sehingga rasa lapar bisa aku abaikan.
Waktu terus bergeser. Perutku kini menagih. Bibirku kering. Peserta yang ingin ber-swafoto tinggal sendirian. Dia ditemani panitia. Perempuan itu berjalan ke arahku dengan terus memerhatikan sepatu yang aku pakai.
“Mas Hendra, perkenalkan. Ini ibu Rini, Dekan,” Ina, Ketua Panitia memperkenalkan sambil menyebut sebuah kampus swasta ternama di kota ini.
“Selamat siang, Mas,” Bu Rini mengangguk.
Aku mengangguk dan mengatur posisi untuk siap berfoto bersamanya. Tapi rupaya Bu Rini tidak bermaksud ingin berfoto denganku.
“Sepatunya bagus, Mas,” pujinya.
“Iya. Ini sepatu sudah aku pakai ke mana-mana dan jadi makin bagus karena sudah menyatu sekitar 5 tahun dengan kedua kakiku,” aku berbohong lagi.
“Sebelumnya saya mohon maaf, Mas. Anak saya sudah sebulan ini sakit, tidak mau sekolah.”
“Wah, perlu dibawa ke dokter, Bu. Jangan sampai sakitnya tambah parah,” saranku.
“Anak saya tidak mau dibawa ke rumah sakit. Obat yang bisa menyembuhkan dia adalah…”
“Iya, Bu? Obatnya apa?”
“Sebulan lalu, anak saya kehilangan sepatu Air Jordan, sebulan lalu dicuri orang,” ceritanya sediha.
“Air Jordan? Pasti sama dengan sepatuku ini, ya!” aku mengangkat sepatu di kaki kananku tinggi-tinggi sambil tertawa.

“Sekali lagi mohon maaf, Mas. Sepatu Air Jordan-nya, betul-betul mirip. Tapi, setelah saya perhatikan jahitannya, warnanya, ukurannya, sepatu yang mas pakai itu punya anak saya. Jika Mas mau menolong saya, sepatunya saya beli lagi, berapa pun harganya, asalkan anak saya sembuh dan kembali bersekolah.”
Tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing.
*) Sumbawa, 11 September 2022
FIKSI MINI hadir dua mingguan mulai Mei 2024. Terbit hari Kamis. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


