Fiksi Mini: Penjaga Museum Karya Gol A Gong

Aku memarkir motor persis di pintu lobby museum. Tidak ada siapa-siapa. Aku pikir, Fadil dan Boy tiba lebih dulu di sini. Ternyata malah aku yang datang lebih awal.

Selepas salat Isya, kami bertemu di café. Aku sedang meneliti tentang kerajaan Islam di pulau terluar ini, yang hancur tak menyisakan apa-apa selain kenangan kerajaan yang gemilang, untuk edisi laporan utama majalah tempatku bekerja. Seharian tadi aku mewawancarai orang-orang yang dianggap tahu seluk-beluk pulau terluar ini, sehingga lupa mengunjungi museum.

Aku berkenalan dengan Fadil dan Boy, pegawai museum. Mereka mengabulkan permohonanku, agar museum bisa aku kunjungi malam hari. Mereka menyanggupi. Kunci museum ada di tangan Fadil.

Aku kitari pandang. Halaman depan yang seluas lapangan bola diterangi cahaya temaram. Guci-guci bertebaran menyerupai bayangan anak kecil berkulit hitam sedang duduk tanpa busana. Angin malam berhembus dari arah depan, membuat tubuhku ibarat diguyur es.

KREK!

Pintu depan museum terbuka.

“Silakan masuk.”

Aku mengangguk dan tersenyum kepada penjaga museum, yang menunduk. “Selamat malam,” sapaku.

Penjaga museum itu berbalik dan masuk ke dalam museum.

“Fadil dan Boy, belum datang, ya?” Aku mengikuti.

Penjaga museum menyalakan lampu. Dia berjalan ke ruangan yang terpisah oleh dinding dengan gambar peta pulau terluar ini.

Aku bermaksud mengejarnya, hendak mengajukan beberapa pertanyaan, tapi terdengar bunyi motor di lobby. Aku yakin itu Fadil dan Boy.

Aku memilih menemui Fadil dan Boy terlebih dahulu.  Betul. Mereka muncul dengan wajah seperti sedang melihat sesuatu yang menakutkan.

“Maaf, Bang. Tadi ban motor kempes. Bocor,” Fadil meneliti ruang depan museum. “Abang, kok, bisa masuk?”.

“Sama siapa tadi?” tubuh Boy bergerak-gerak seperti hendak lari.

“Sama siapa, ya? Kayaknya,  sih, penjaga museum.”

“Mana orangnya, Bang?”

“Mana, ya? Aku pikir, dia ada di sini. Atau mungkin ke belakang,” aku melihat ke pintu ruangan dalam.

“Mendingan kita balik ke hotel aja, Bang. Besok pagi kita ke sini lagi.”

“Iya. Mendingan begitu. Ini malam Jum’at lagi.”

“Waduh! Nggak bisa. Kapalku berangkat pukul delapan. Nggak akan keburu.”

Fadil dan Boy saling pandang.

“Aku hanya ingin memeriksa beberapa hal saja. Misalnya surat-surat administrasi kerajaan dalam hal pajak.”

“Kita begadang saja di rumahku. Aku ada beberapa salinannya, Bang,” suara Fadil  bergetar.

“Kenapa? Ada apa ini?” Aku mulai tidak enak badan. Terasa seperti melayang.

“Sebaiknya Abang ikut kami,” Fadil bergegas keluar museum diikuti Boy.

“Ayo!” Boy menarik lenganku.

Mataku mencari-cari penjaga museum tadi. Tapi tidak tampak.

Lampu ruangan tiba-tiba mati.

Gelap.

“Ayo, Bang!” teriak Fadil.

Aku menurut saja ketika Boy menarikku dengan kencang. Fadil segera mengunci pintu depan museum.

“Sini, kunci motornya. Biar saya yang bawa,” Boy meminta kunci motor sewaan kepadaku.

Aku menurut saja. Aku duduk di boncengan.

Fadil menyalakan mesin motor dan langsung meluncur. Boy mengikuti.

“Penjaga museum tadi namanya Aldi, Bang. Dia ditemukan bunuh diri sepuluh tahun lalu.”

Aku tidak bisa berkata-kata. Aku menoleh ke museum. Aku meliht sesosok bayangan hitam berdiri di sana.

*) Tanjung Pinang, 30 Juli 2023

FIKSI MINI Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==