I am A Survivor: BQ! Hidup Tak Pernah Berakhir

Saya dapat spirit menulis dari Gong dan Toto ST Radik. Kami sama-sama SMAN 1 Serang (saya paling muda, Mas Toto Radik senior saya, dan Gong super senior hehe). Tentu beda angkatan tapi SMAN 1 mempertemukan saya dengan mereka. Mas Toto sudah jadi penyair dan pemain teater (bahkan kemudian jadi pelatih teater di SMA), mas Gong sudah jadi wartawan dan penulis serial Balada si Roy di majalah HAI. Saya sendiri masih siswa SMA, saat itu tahun 1990.

Spirit menulis mereka berdua sangat besar, saya hanya bisa bertemu dengan keduanya jika membawa tulisan atau menceritakan hasil bacaan buku baru. Bahkan setelah terpisah, karena saya kuliah di IAIN Bandung, sapaan mereka berdua sangat sederhana, “Mana tulisanmu?” Sialan banget!

Kesal juga dapat pertanyaan simpel kayak gitu. Tapi, gara-gara itu, saya mulai menulis lagi. Lumayanlah beberapa artikel dan puisi dimuat di Pikiran Rakyat ,..makasih Kang Soni Farid Maulana (allahummarhamu), KOMPAS, Media Indonesia, dll, ada juga nulis beberapa buku … (makasih Bu Rema Simbiosa, dan DAR Mizan)… dan jadi guru besar karena keterampilanku menulis jurnal (bukan karena kepintaran lho…)

Kok bertele-tele nyeritain kisah pribadi hehehe… maaf.. maaf… Kembali ke buku I AM A SURVIVOR

Maka buku ini jadi pengingat pilihan yang pernah kubuat dulu, yang harus dicapai dengan cara apapun. Lebih dari itu, buku ini memberi spirit untuk terus bergerak meraih apa yang sudah diputuskan sebagai jalan hidup. Keterbatasan fisik bukan halangan, kurang uang, apalagi keterbatasan relasi politik. Pada buku ini Gong menuliskan kisahnya: beberapa mimpi, keterbatasan dan halangan meraih mimpi itu, dan kekeraskepalaan meraih mimpi itu. Di sela-sela tulsannya itu diselipkan godaan bagi pembacanya, “masa kamu g bisa, aku aja bisa!”

“Jika bertemu denganku, telitilah dengan seksama tubuhku. Bandingkan dengan tubuhmu yang sempurna dan sehat,” tulis Gol A Gong. “Janganlah jadi manusia loyo, yang diam di kamar dengan gawai di tangan, tapi merasa sudah jadi pemenang dan pergi melanglang buana ke seantero negeri. Padahal sebetulnya kamu adalah pecundang dan tidak pergi ke mana-mana. Kamu harus malu kepadaku!” (hal. 13)

Bahkan pada pembatas buku tertulis, “Ada katak dalam tempurung. Dia merasa sudah melihat dunia. Ada anak datang dari kampong. Dia merasa sudah menaklukkan dunia. Padahal peta perjalanan membentang luas. Menantang para pemberani mengarungi dengan atau tanpa perahu”

Maka mari bertualang lagi. Satu hambatan bukan alasan untuk berhenti melakukan sesuatu, itu hanya pesan untuk mengatasinya atau pembelokan takdir saja. Karena seperti pesan Gol A Gong pada buku ini: “BQ! Hidup Tak Pernah Berakhir.” (*)

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==