Oleh Muhzen Den
Dewasa ini perkembangan teknologi dan informasi begitu pesat. Media sosial merajalela memenuhi mata dan kepala kita. Hanya dengan alat canggih bernama gawai atau ponsel pintar, kita bisa leluasa dan bebas menjelajahi dunia. Bahkan mengetahui hal-hal yang tidak ketahui sebelumnya.
Media sosial mengantarkan kita pada gerbang hiruk-pikuk informasi dan ilmu pengetahuan. Namun, tanpa sadar pula media sosial menarik diri kita pada candu dan ketergantungan. Kebiasaan-kebiasaan yang seharusnya bisa kita lakukan dengan bergerak, kini cukup rebahan di rumah, semua bisa terjadi dan terpenuhi.
Hasrat kita yang haus akan informasi dan hiburan, seketika dapat terpuaskan dengan benda canggih terhubung pada jaringan internet. Banyak aplikasi ponsel pintar yang sering jadi kunjungan kita, yakni YouTube, Instagram, Facebook, TikTok, Google, dan lain sebagainya. Aplikasi-aplikasi tersebut seakan-akan telah menjadi tuan dalam hidup kita.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di media sosial langsung viral dan banyak digandrungi para penikmatnya. Belum lama ini ada peristiwa viral berasal dari media sosial TikTok. Hanya karena kata-kata berbunyi pantun oleh pengguna media sosial, justru banyak disukai. Contohnya lirik lagu “Ubur-ubur Ikan Lele” yang masih jadi pusat perhatian warganet karena terdengar lucu dan menarik.
Awalnya hanya sekadar diunggah di media sosial tersebut, tapi karena banyak respon dari warganet, maka video bahkan lirik lagu itu viral. Keramaian di dunia maya atau media sosial berlanjut hingga ke dunia nyata. Terutama anak-anak yang gampang terpengaruh sehingga mempraktikkan apa yang mereka simak.
Bahkan trend “Ubur-ubur Ikan Lele” pun merajai jagat media sosial lainnya, dan dipraktikkan oleh pengguna lainnya. Hanya karena kata-kata lucu dan unik di media sosial menjelma sesuatu yang ramai digandrungi.
Mungkin keramaian di media sosial yang viral adalah bagian dari gema respon para penggunanya. Oleh karena itu, sesuatu yang viral mudah ditiru karena efeknya. Namun, kita butuh kebijaksanaan dalam mencerna informasi yang berseliweran di mata dan kepala kita.
Trend di media sosial hanya semu sesaat, tapi kita jangan lupakan kehidupan sosial kita di lingkungan masyarakat. Jangan sampai hidup kita tergantung pada trend dan viral.



