Oleh: Zaeni Boli
Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki banyak daerah yang rawan bencana. Kerap kali bencana datang tanpa kesiapan dari masyarakat, sehingga mengakibatkan dampak yang jauh lebih besar. Hal ini salah satunya disebabkan oleh minimnya pendidikan kebencanaan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama, khususnya dari dunia pendidikan, untuk memasukkan metode pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum. Dengan begitu, jika terjadi bencana, dampaknya bisa diminimalisir.
Flores Timur, sebagai salah satu daerah rawan bencana, ternyata belum banyak menerapkan pendidikan kebencanaan di satuan-satuan pendidikannya. Maka dari itu, diperlukan upaya mandiri untuk mendistribusikan pengetahuan tersebut kepada peserta didik. Hal ini telah diupayakan oleh SMK Sura Dewa beberapa waktu lalu.
Dengan memberikan pengetahuan dini tentang kebencanaan, kita dapat meminimalisir dampak dari bencana. Pengetahuan ini semestinya disalurkan kepada anak-anak usia sekolah agar mereka tidak panik atau gagap saat menghadapi bencana.
Langkah-langkah sederhana dalam simulasi gempa di sekolah adalah sebagai berikut:
- Bersembunyi di balik meja untuk menghindari pecahan kaca atau material lain jika terjadi gempa.
- Ketika gempa mereda, segera keluar dari ruang kelas menuju lapangan terbuka sambil melindungi kepala dengan tas yang dibawa. Dianjurkan untuk tetap tenang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
- Berkumpul di lapangan, menjauhkan diri dari bangunan dan pecahan kaca atau material berbahaya lainnya.
Inilah langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan saat bencana terjadi di dalam kelas. Hal ini telah dicontohkan oleh anak-anak SMK Sura Dewa beberapa waktu lalu.



