Cerpen Sabtu: Batu Quran

Oleh MN Fazri

Langit di tempat pemandian alam Batu Quran kala itu cerah. Daun-daun yang basah karena hujan satu hari yang lalu mulai mengering. Orang-orang tanpa ragu menginjak daun-daun tersebut seraya berjalan untuk tawasul – mencari keberkahan di kolam mata air Batu Quran.

“Wah, ramai juga parkirnya, Kang. Padahal hari biasa, ya?” tanya salah satu pengunjung bernama Sarman kepada juru parkir. Dia merapikan motornya supaya berjejer dengan motor-motor yang lain.

“Alhamdulillah, Kang. Batu Quran ini memang membawa berkah buat orang kampung di sin.”

Sarman datang dengan istri tercinta untuk mendapatkan keberkahan dari mata air Batu Quran. Lebih-lebih, ia sangat berharap bisa datang ke Rumah Allah – Mekkah. Kata leluhurnya jika berhasil berenang mengelilingi Batu Quran tujuh kali tanpa bernafas, orang tersebut akan mendapatkan hadiah naik haji.

Setelah berziarah ke makam orang soleh yang dikeramatkan, Sarman langsung menuju ubuk-gubuk kecil yang berjejer di pemandian alam ini. Gunung menjulang di depannya. Dia meletakka tasnya. Rina duduk di gazebo.

“Neng jaga, ya. Mas berenang dulu. Doain, ya.” Sarman melepas kemejanya.

“Mas, yakin dengan keberkahan Batu Quran ini?”

“Insya Allah, Neng. Harus yakin.”

“Tapi, kolamnya dalem, Mas. Ngg, Neng kuatir Mas kenapa-kenapa.” Rina ragu dan cemas dengan suaminya tersebut.

“Gapapa, Neng. Mas kan anak pantai. Udah sering renang di laut lepas.” Sarman meyakinkan istrinya; ia memeluk erat sang istri dan mencium keningnya.

Dengan hitungan menit, Sarman sudah melepas peci dan sarung yang melekat di badannya. Kini, ia hanya memakai kaos hitam polos dan celana pendek motif batik.

“Bismillah. Kita bisa berangkat haji ya, Neng. Semoga ada rezeki dari arah yang tak terduga datang,” ucap Sarman, sekali lagi ia meyakinkan kekasihnya agar terus mendoakan sang suami.

Dua putaran Sarman berhasil mengelilingi Batu Quran dengan lancar. Orang-orang di sekitar yang akan masuk ke tempat ziarah, ikut serta melihat Sarman yang gigih berenang di kolam tersebut.

“Kang, punten. Itu ada orang lagi renang. Emang boleh ya? Setau saya itu kolam sakral, tidak sembarang orang bisa renang di situ,” tanya Anton kepada penjaga tempat ziarah.

“Nggak, Pak. Memang biasanya banyak yang renang. Tapi baiknya Bapak ziarah dulu ke makan Sheikh, baru setelahnya renang.”

“Wah, kebetulan banget, saya baru beres ziarah.”

“Emang Bapak mau nyari berkah?”

“Saya duda, Mas. Siapa tahu dapat jodoh,” si Bapak tertawa.

Tanpa basa-basi, si bapak meloncat ke kolam tersebut. Ia mengikuti pergerakan Sarman yang sedari tadi sudah renang mengelilingi Batu Quran. Belum sampai satu putaran, kaki Anton keram. Ia lupa peregangan tadi. Ia mulai kehilangan kendali untuk renang dengan santai, tangannya mulai mendayung lebih cepat, tapi kakinya sulit untuk bergerak. Dia merasa tubuhnya tertarik ke dasar kolam.

Anton tidak sempat berteriak minta tolong. Kaki dan tangannya berusaha untuk tetap digerakkan agar wajahnya bisa muncul ke permukaan air. Tapi kakinya semakin sulit digerakkan. Tubuhnya terus tersedot ke dasar kolam.

Orang-orang yang melihat kejadian itu, bingung antara memilih menyelam dengan pakaian syar’i atau melepas bajunya dulu. Mereka tadi juga melihat ada papan informasi bahwa kolam tersebut cukup dalam, membuat mereka ciut untuk segera menolong. Bahkan beberapa mengarahkan handphonenya untuk membut konten agar viral.

Sarman yang fokus untuk segera menyelesaikan renang, mendengar itu, langsung melaju cepat menyelamatkan si bapak. Beberapa orang merekam dengan kamera HP-nya. Sarman menarik tangan si bapak dan menepi ke samping kolam.

“Tolong, tarik, tarik,” Sarman mendorong tubuh si bapak ke atas.

Beberapa orang menarik tubuh si bapak. Setelah berhasil ditarik, mereka meletakkan si bapak di lantai.

“Pak, Pak. Bangun!” Sarman menepuk-nepuk pria berbadan kurus itu dengan posisi terlentang.

Orang-orang mulai berdatangan mendekati kedua lelaki tersebut. Salah satu di antara mereka ada yang memberanikan diri untuk mengecek nafas dan detak jantung Anton. Tanpa basa-basi, Sarman memberikan tekanan atau kompresi dada, dengan meletakkan salah satu telapak tangan di bagian tengah dada Anton dan tangan lainnya di atas tangan pertama.

Anton terbatuk. Air dalam mulutnya keluar, matanya terbuka pelan-pelan, dan ia mulai sadarkan diri. Beberapa orang menyarakan Anton dibawa ke rumah sakit terdekat, agar mendapatkan pertolongan yang lebih maksimal.

“Saya antar ke rumah sakit ya, Pak.” Tangan Sarman merangkul Anton, sejurus kemudian ia pamit kepada istri, dan memintanya untuk tidak kemana-mana.

“Aman, Kang. Si teteh biar saya yang jagain di warung,” ucap seorang ibu.

“Terima kasih banyak, Bu. Maaf merepotkan.”

Anton dibawa dengan mobil milik warga setempat, ia ditemani oleh Sarman di kursi tengah. 12 menit kemudian, mereka sudah sampai di puskesmas dan segera di bawa ke ruang UGD.

“Mohon maaf, Pak. kami cek terlebih dahulu kondisi pasien. Bapak, tunggu diluar terlebih dahulu, boleh duduk di sini aja,” ujar salah satu perawat.

Tak butuh waktu lama, dokter keluar dari ruangan dan menyampaikan kondisi Anton.

“Alhamdulillah pasien dalam kondisi baik. Sisa air di dalam tubuhnya sudah keluar semua. Sisanya hanya perlu istirahat dan pemberian asupan buah-buahan.” dokter memberikan senyum yang lebar, seraya pamit untuk melanjutkan tugas yang lain.

“Baik, Terima kasih, Dok, atas bantuannya. Saya sudah bisa masuk ke dalam?” tanya Sarman

“Oh iya. Bisa, silahkan masuk!”

Anton masih terbaring lemah di atas kasur, namun ia sudah bisa diajak bicara.

“Mohon maaf. Anda siapa, ya. Kok mau menolong saya sampai sejauh ini?” tanya Anton kepada Sarman.

“Bukan siapa-siapa, saya hanya salah satu pengunjung di Batu Quran, Pak,” jawab Sarman

“Terima kasih, kalau bukan karena Mas, mungkin nasib saya akan berbeda,” kata Anton

Anton dan Sarman terbawa suasana, mereka bergelut dengan obrolan hangat dan cerita masa lalunya masing-masing. Di tengah obrolan itu, Anton menceritakan maksud dan tujuannya datang ke Batu Qur’an ingin mencari jodoh.

“Alhamdulillah, Mas. Saya masih memiliki 2 kuota untuk berangkat umroh tahun depan. Kebetulan saya juga memiliki usaha travel haji dan umroh. Ini sudah rezeki Mas, karena sudah menolong saya. Tahun depan ajak istrinya untuk umroh, ya. Siapa tahu nanti ada rezekinya untuk berhaji..”

Sarman mengucap syukur ahamdulillah. tidak haji, umroh pun jadi. (*)

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==