Saya mendapatkan giliran pertama. Kelompok kami memilih ruang bawah luar untuk mempresentasikan karya pertunjukan kami. Eksekusi yang belum matang nampak terlihat di sana. Tapi sejauh itu baik .

Lalu presentasi dari kelompok Tamimi. Presentasi yang matang dan nampak sekali ini pertunjukan Postdramatik itu . Abi Banyuwangi sebagai salah satu dari anggota kelompok tersebut, mencoba mengadaptasi Black Campaign dalam pertunjukan mereka . Dalam pertunjukan mereka, kita dibawa pada ruang semisal pameran dan teks- teks yang terus disuarakan menggunakan Ai dan instalasi tubuh manusia.

Banyak hal yang membuat kita berpikir keras tentang maksud dari pertunjukan ini dan itu salah satu poin dari Postdramatik, penonton diajak untuk berpikir.

Jumat adalah waktu singkat. Setelah pertunjukan kelompok Tamimi, kami beristirahat selama sejam. Kemudian untuk Isoma . Setelahnya presentasi dimulai dari kelompok Betrik. Kelompok ini mengusung atau mengadaptasi demonstrasi dalam pertunjukannya dan itu berhasil dalam pembagian ruang dan pembagian peran.

Sementara kelompok terakhir, kelompok terbaik. Sejauh ini dalam penyajian presentasi , isu gender yang dihilangkan, permainan yang ciamik begitu jenaka dan menghibur. Seperti kata salah satu tokoh teater, “Puncak tragedi adalah komedi.” Kelompok Abdi Karya begitu matang dan menghibur .

Kami hanya sampai jam dua, karena mesti melanjutkan diskusi di tempat berbeda yang menjadi bagian dari agenda panitia.

Sebuah diskusi tentang apa yang pernah Kai Tuchmann presentasikan di China. Sebuah karya Postdramatik yang menggunakan arsip sebagai bahannya . Diskusi dilaksanakan di Ivaa Yogyakarta, sebuah perpustakaan yang mengkhususkan pada pengarsipan karya seni. (*)



