Komunikasi Anak dan Orang Tua Harus Terjadi Dialog

Tapi setelah mengundurkan diri dari Rumah Dunia pada 2008, tiada hari tanpa traveling. Kadang touring keliling Jawa menyetir sendiri, dimana di setiap kota ada pelatihan menulis atau seminar literasi. Dengan cara traveling sambil pelatihan, urusan akomodasi dan logistik terbantu. Kami beri nama “Gempa Literasi”, yaitu aktivitas literasi seputar pelatihan, pembacaan puisi, seminar, dan bedah buku.

Kadang saya ajak Gabriel dan Jordy saja, traveling ala laki-laki. Backpacking. Dengan traveling, saya bisa mengenal karakter mereka. Dengan cara traveling, saya menghidangkan kepada mereka persoalan kehidupan sekaligus solusinya. Saya beri tahu cara hidup sebagai lelaki.

Pada 2012, Gabriel mendapat beasiswa di Uni Arab Emirat. Kelas 5 SD. Dia masih di Abu Dhabi. Sekarang sedang menyusun skripsi. Traveling biasanya menunggu dia liburan lebaran. Kami pernah mengadakan Gempa Literasi di Sumatera tahun 2017; mulai dari Lampung hingga Medan, naik bus, selama sebulan.

Setelah itu Gabriel kembali ke Abu Dhabi dan Nabila mendapat beasiswa di Sun Yat Sen University. Tinggal kami bersama Jordy dan Natasha. Saya sebagai ayah berusaha intens berkomunikasi dengan mereka. Terutama dengan Jordy yang rada badung. Kadang kami bertengkar mulut. Digital jadi penyebabnya. Tapi kami senang bisa beradu mulut, artinya bagi kami itu dialog atau komunikasi versi lain dari ayah dan anak. Yang penting masih sopan.

Lebaran 2024 ini, Nabila sudah S1 dan jadi PA di perusahaan China di Jakarta. Kadang dia terbang ke China untuk urusan bisnis. Sedangkan Gabriel tidak pulang. Di rumah lebaran minus Gabriel. Jordy sekarang kuliah di Akademi Film Yogyakarta dan Natasha di UPI Bandung, jurusan Sastra Korea.

Saat lebaran ini saya intes dengan Jordy. Saya ajak dia mendekor Museum Literasi Gol A Gong. Dia jadi andalan kami mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ayahnya lakukan. Dia juga sudah mahir menyetir, sehingga bisa diandalkan jadi supir keluarga.

Begitulah anak-anak. Jika sejak kecil sudah diberi kepercayaan, walaupun muncul konflik, itu adalah proses pendewasaan mereka. Kami justru kuatir jika si anak hanya mengurung diri di kamar, tenggelam dengan internet.

Semoga anak-anak kita tumbuh sehat dan kreatif, agar pada 2030 dimana bonus demografi dan Indonesia Emad 2045, menjadi bagian yang membanggakan, tidak jadi beban keluarga dan negara.

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==