Oleh Rudi Rustiadi
Komunitas Penawara bersama Satu Pena Kabupaten Semarang menggelar diskusi literasi bersama Duta Baca Indonesia di The Angkringan’s Kita, Ambarawa, pada Minggu (5/10). Acara ini dihadiri sejumlah komunitas literasi di wilayah Ambarawa, di antaranya Kanal Semua Bisa Menulis (KSBM), Guru Bisa Menulis, Duta Literas, serta perwakilan dari Taman Bacaan Masyarakat.
Diskusi berlangsung hangat dengan topik utama seputar gerakan literasi di Kabupaten Semarang, khususnya di Ambarawa. Selain itu, para peserta juga berbagi pengalaman mengenai dunia kepenulisan dan penerbitan buku.

Ketua Penawara, Budiyanti Anggit, menjelaskan bahwa komunitasnya telah berdiri sejak 2012 dan aktif menerbitkan buku, terutama antologi kisah inspiratif.
“Anggota Penawara berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari pengemudi ojek online, pensiunan, guru, ibu rumah tangga, hingga dosen,” ungkapnya.

Sementara itu, Indah Zein, ketua Kanal Semua Bisa Menulis (KSBM), memaparkan bahwa komunitasnya lahir pada masa pandemi Covid-19. Ia juga menjelaskan KSBM sudah memiliki penerbitan sendiri. Aktivitas kepenulisannya banyak dilakukan melalui grup WhatsApp karena anggotanya berasal dari berbagai daerah.
Dari komunitas Guru Bisa Menulis, ketua Nur Alfiah mengungkapkan pihaknya sudah menerbitkan sebanyak 45 buku antologi karya para guru. Sedangkan komunitas Duta Literasi Kabupaten Semarang, yang diwakili Maria, menekankan pentingnya kolaborasi antar-komunitas untuk memperluas jangkauan gerakan literasi hingga ke masyarakat pelosok.
Acara diskusi ini mendapat apresiasi dari para peserta yang berharap sinergi antar-komunitas literasi dapat terus diperkuat. Mereka sepakat bahwa gerakan membaca dan menulis di Kabupaten Semarang harus menjadi gerakan bersama demi membentuk masyarakat yang literat.

Pada kesempatan itu Duta Baca Indonesia, Gol A Gong mengusulkan untuk membentuk forum yang menyatukan semua komunitas yang ada. Hal itu dimaksudkan agar bisa membuat acara dengan sekala yang lebih besar karena mewadahi semua komunitas yang ada.
Selain itu Gol A Gong juga memberi pelatihan singkat menulis fiksi mini, menulis kisah inspiratif dan menulis puisi. Ketiga genre kepenulisan tersebut disampaikan oleh Gol A Gong sekaligus dengan contoh-contoh.



“Jika menulis fiksi mini yang harus diingat adalah lokasi dan waktu harus 1. Serta ceritanya memuat pesan dari penulisnya. Sedangkan menulis kisah inspiratif yang harus diperhatikan adalah konsekuensi serta dampaknya. Kalau menulis puisi itu ibarat kita membuka jendela dari dalam kamar, apa yang kita lihat di luar, itulah puisi,” jelas Gol A Gong.


