Oleh: Naufal Nabilludin
Selama 3 malam aku berkesempatan menginap rumah Fauzi di Bangkalan, Madura. Ada sesuatu yang langsung menarik perhatianku: keunikan rumah-rumah di sana. Hampir setiap rumah memiliki mushola pribadi yang semi terbuka. Di rumah Fauzi pun begitu. Musholanya, atau yang juga disebut langgar, terpisah dari rumah utama. Sebuah ruang istimewa, tempat pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya.
Saat aku bertanya tentang tradisi ini, Fauzi menjelaskan dengan sederhana, tapi penuh makna. Katanya, di Madura, hampir semua rumah memiliki mushola atau langgar. Bukan hanya soal kebiasaan, tetapi ini juga menyangkut filosofi hidup orang Madura. Mereka percaya bahwa ruang untuk salat harus dipisahkan dari rumah utama agar lebih khusyuk.
Langgar menjadi ruang khusus, yang tidak hanya terjaga kebersihannya, tetapi juga menciptakan suasana tenang untuk beribadah. Bagi orang Madura, ibadah adalah momen yang sakral, dan mereka ingin menjaganya dari hiruk-pikuk aktivitas rumah tangga.

Tradisi ini ternyata tak lepas dari pengaruh budaya Islam yang sangat kuat di Madura. Berdasarkan data yang pernah kubaca, mayoritas penduduk Madura, sekitar 98%, adalah Muslim. Kehidupan sehari-hari mereka sangat kental dengan nilai-nilai agama.
Maka tak heran, memiliki mushola pribadi menjadi hal yang dianggap penting. Bahkan, di beberapa desa, mushola-mushola ini sering dihias dengan ukiran kayu khas Madura, menunjukkan betapa ibadah bukan sekadar ritual, tapi juga ekspresi seni dan penghormatan kepada Yang Maha Kuasa.
Berjalan di sekitar desa, aku melihat mushola-mushola kecil berdiri di samping rumah-rumah sederhana. Beberapa tampak dihiasi dengan keramik putih yang berkilau diterpa matahari. Ada pula yang dikelilingi pohon-pohon rindang, menambah kesan damai. Aku jadi merenung, bagaimana orang Madura mampu menjaga harmoni ini, memisahkan ruang duniawi dan ruang spiritual secara begitu nyata.
Tradisi ini membuatku berpikir ulang tentang rumah dan maknanya. Bagi orang Madura, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga tempat jiwa kembali. Dan langgar adalah jembatan itu – ruang kecil yang menghubungkan bumi dan langit.



