Aku paling seneng nonton film di bioskop. Ruang pertemuan dengan beragam jenis orang, kadang membuatku terpancing menemukan ide cerita. selain itu, layar yang besar, audio yang memenuhi seluruh ruangan, membuatku terpuaskan. Itu sebab, aku harus ada di dalam bioskop, duduk nyaman sambil menikmati pop corn sebelum lampu dimatikan dan trailer atau pracuplik film terbaru lainnya diputar.

Tentang film JCSdiFF-nya, sih, yang disutradarai dan ditulis oleh Yandy Laurens sebetulnya biasa saja. Hanya permainan di struktur (alur) cerita utama yang ada ceritanya lagi atau ada bingkai cerita di dalam cerita. Ada film di dalam film, yang membedakannya dengan film Indonesia, yang rata-rata alurnya maju-mundur-maju.

Aku sendiri pernah menulis novel dengan struktur ceita seperti ini. Tapi yang membuatku kaget, ada juga, ya, produser yang mau memproduksi film jenis drama romantis (romantic comedy) seperti JCSdFF. Kayaknya, sih, eksperimen. Katanya, 2 minggu tayang di biokop nembus 500 ribu penonton, ya. Boleh juga. Angin sehat bahi film ini. Tentu aku senang mendengarnya jika ada film yang box office, karena itu bagus untuk perusahaan filmnya, yang tentu menafkahi banyak orang di dalamnya. Selamat.
Sepanjang yang saya tahu, film dengan jenis penulisan skenario seperti JCSdFF belum pernah ada – atau aku terlewat menontonnya. Beberapa film produksi Hollywood, sih, sudah banyak dengan jenis alur cerita film seperti ini. Barangkali itu kelebihan di film ini, sehingga orang-orang memiliki alternatif tontonan selain yang horor-horor itu. Beberapa review film memuji-muji dan mengabarkan, bahwa film ini juga selain tontonan juga tuntunan untuk menulis skenari 8 sequence (babak). Tampaknya bagi pnonton di Indonesia ini hal baru.

Faktor lain yang menguatkan film ini, jenis vocal Bagus (diperankan Agus Ringgo Rahman) dan Hanna (Nirina Zubir) yang empuk dan pandai mengatur intonasi serta artikulasi, sehingga materi dialog cinta (yang klise) mereka jadi kuat, enak didengar dan diresapi. Kita tahu, Agus Ringgo dan Nirina penyiar radio. Sentuhan dialog komedi ala Ernest Prakasa (sebagai Produser) membuat penonton terhindar dari rasa bosan. Harus kita akui dari segi produksi dan editing cukup bagus.
Selebihnya, nonton sajalah!


REDAKSI LAYAR BIOSKOP: Resensi film di Layar Bioskop, harus orisinal. Penonton harus terhubung langsung dengan filmnya. Hindari definisi-definisi, upayakan ada detail suasana bioskop dan penonton. Teknik menulis travel writing sangat ditunggu. Panjang 500 hingga 700 karakter. Honor Rp. 100 ribu. Terbit tiap Jum’at , 2 mingguan, bergiliran dengan resensi buku di Rak Buku.



