Mahbub Djunaidi dan Manusia Era Digital

Berbicara tentang tulisan Mahbub Djunaidi maka semua kalangan akademisi yang ada di Indonesia akan mengacungkan jempol, sebab tulisannya bisa dianalogikan sebagai Muhammad Ali yang menari-nari di ‘ring tinju’ membuat membacanya terhibur dan (Bum) ternyata memukul tepat sasaran dan sangat keras, hingga orang yang membaca kritikan beliau akan sholat taubat, termasuk Soekarno yang dikritik tiada henti sampai adu gagasan dengan Mahbub Djunaidi.

Soekarno menulis bahwa negara Indonesia itu adalah negara agraris, dan bung Mahbub menjawabnya bahwa Indonesia itu negara maritim bisa dibuktikan dengan literatur sejarah karena nenek moyang kita yakni pelaut bukan petani, sebab kolonial Belanda yang memaksa bangsa ini menjadi seorang tukang cocok tanam. Akan tetapi, tulisan dari kedua tokoh tersebut sama baik dan bagusnya dalam menyampaikan argumentasi, namun Mahbub tulisannya selalu memiliki humor.

Kemudian tulisannya tentang Pancasila membuat Soekarno jatuh cinta pada Mahbub Djunaidi, ia memikat dengan kata bahwa Pancasila lebih Sublim daripada “Declaration of Independence” di Amerika kemudian diundang ke Istana, dan seperti halnya intelektual, mereka berdua banyak berdiskusi di belakang istana sembari menyeruput kopi.

Soal tulis-menulis beliau mulai sejak kecil masa SMP dan kemudian kiprahnya sangat luhur di Nahdatul Ulama bukan hanya sebagai Pengurus Besar PMII. Akan tetapi masih banyak yang lainnya terutama di Media Cetak, sebab Bung Mahbub menjadi pimpinan redaksi Duta Masyarakat yakni media cetak resmi milik NU. Cukup lama mengisi kolom tersebut terhitung pada tahun 1960-1970.

Kolomnis sejati yang dirindukan ini telah menunjukkan bahwa tulisan yang humor tapi intinya ini kena. Sekali lagi belum ada tanding, sebab Mahbub Djunaidi tidak akan ada duanya. Ketika beliau keluar dari tahanan sebab kritiknya terhadap Orde Baru. Ketika diwawancara oleh Karni Ilyas, wartawan Tempo saat itu, apa rencananya setelah dibebaskan, ia menjawab, “Menulis. Saya ini tukang jual tulisan. Selama masih ada yang mau membeli saya akan tetap menjual.”

Kemudian saya mencoba membayangkan hal yang sama seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin jika beliau hidup di era digital seperti sekarang ini yang pasti cuitannya di Twitter akan mengguncang para politikus sebab di zaman old saja yang bermodal mesin ketik butut beliau selalu berkicau bak Burung Parkit yang tulisannya lantang, lugas dan tentu blak-blakan seperti orang berbicara bebas. Bagaimana kalau ada kemudahan menulis di media sosial seperti Facebook, Instagram, dll.

Siapa di era digital yang selalu berkicau di Twitter? Fadli Zon? Pasti akan kalah banyak jika Bung Mahbub hidup di zaman ini, sebab masalah tidak ada hentinya dan orang seperti beliau sangat dibutuhkan agar para politikus sadar betul dengan penyimpangan yang dilakukannya. Apakah ketika dikritik beliau para politikus sekarang mau mengundangnya dan memberikan uang agar tidak berkicau lagi, tentu tidak akan pernah bisa. Toh, sekaliber Soekarno yang jadi kerabatnya saja dikritik habis-habisan, apalagi sekarang mungkin koran kelas atas setiap hari akan menayangkan tulisannya di kolom opini.

Mungkin dalam bayangan kita terdapat Goenawan Mohamad yang selalu menulis dan produktif walaupun usianya sepuh, saya membayangkan kembali bagaimana kalau Bung Mahbub? Tiada keistimewaan tulisan selain membaca para pendahulu dalam memaparkan secara gamblang masalah yang penuh analisis.

Pertanyaannya simpel sekali. Kemana saja generasi milenial yang hidup hedonis tapi tidak menyisakan tulisan yang menggaung? Dengan kemudahan akses internet dan pengetahuan gampang untuk didapat, hanya menuliskannya di google dan mencarinya. Lalu referensi itu dipadukan dengan analisis dan dipaparkan di media sosial, bahkan media daring sudah tidak terhitung jumlahnya.

Bung!, Tolong jangan geleng-geleng kepala saat melihat generasi muda Indonesia yang tidak memanfaatkan teknologi secara benar dan semestinya. Tapi Bung, kami hanya terkagum-kagum ketika membaca tulisanmu dan tidak bisa menirunya, pesan-pesan yang satire dan saskasme akan selalu dikenang selamanya.

Wallahu alam

Serang, 20 Oktober 2019

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==