Menurut Plt Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, kebiasaan membaca harus dibangun sejak muda, sejak masih kecil, bahkan ketika anak itu masih dalam kandungan. Hal ini akan membantu membangun fondasi kuat dalam kebiasaan membaca seiring dengan pertumbuhan anak. Sebagai tindak lanjutnya Perpustakaan Nasional akan mengintervensi 10.000 perpustakaan baru di desa-desa.

“Akan dibangun 10.000 perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, perpustakaan berbasis inklusi sosial akan dapat 1000 judul buku, sedangkan yang ke sekolah 600 buku. Buku-buku yang disalurkan dicetak khusus dengan kategori buku bacaan bermutu. Selain itu akan ada juga pendampingan tentang pengelolaan perpustakaan atau literasi,” jelas Aminudin dalam pidato kuncinya.

Pendiri Reading Bugs, Komunitas Read Aloud Roosi Setiawan mengatakan, bahwa membacakan nyaring dapat menjadi kebiasaan yang terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari. Kegiatan rutin yang membantu membentuk pola baca pada anak-anak.

“Pemilihan buku yang sesuai dengan usia dan minat anak menjadi kunci penting dalam membacakan nyaring. membacakan buku dengan suara yang disukai anak, ekspresi, dan menggunakan gesture akan meningkatkan minat anak terhadap membaca. Selain itu kontak mata yang terjaga selama proses membacakan nyaring juga menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan antara orang tua atau guru dengan anak,” ungkap Roosi.

Psikolog Anak Grace Euginia Sameve menjelaskan bahwa kegiatan membacakan nyaring oleh orang tua atau guru dapat memengaruhi perkembangan tumbuh kembang anak secara holistik. Membacakan nyaring membantu anak mengenal kosakata baru dan mengasah kemampuan berbahasa.

“Dari segi psikososial, anak-anak akan merasa lebih terikat dan percaya kepada orang dewasa yang membacakan buku secara nyaring,” jelas Grace.

Dalam kesempatan tersebut juga dipraktikkan secara langsung cara membacakan nyaring oleh Amalia Novianti, Duta Baca Jakarta Barat.


