Mencari Masa Lalu yang Tertumpuk dalam Ingatan

Oleh: Zaeni Boli

Pagi ini, 27 Maret 2025, saya mencoba menggali lagi ingatan masa lalu. Ada banyak kenangan yang layak dirayakan, ada banyak kejayaan yang kini mulai memudar. Seperti sebuah kutipan yang entah dari mana asalnya, bunyinya begini: Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

Ya, mungkin itulah yang saya rasakan hari ini. Setelah rutinitas kehidupan menjadi belenggu kebebasan, kebahagiaan yang dulu diperjuangkan ternyata justru mengikat kita untuk tak ke mana-mana. Benarkah? Sepertinya tidak juga. Tapi waktu, tapi usia—mungkin tak lagi mengizinkan kita untuk bertindak ugal-ugalan.

Dulu, saat masih aktif di dunia cosplay dan seni, saya merasa bebas, sebebasnya menjadi diri sendiri. Kini, setelah berkeluarga, ada hal lain yang perlu diperjuangkan, bukan sekadar nama yang semu.

Tapi apa pun itu, semua patut disyukuri. Hidup yang hanya sekali ini layak untuk diperjuangkan.

Meski begitu, ada rasa tidak enak saat melihat kondisi negeri ini yang sedang tidak baik-baik saja. Bayangkan, bisa-bisanya Kantor Tempo dikirimi kepala babi, lalu tanpa empati, perwakilan istana berkata, “Dimasak saja.” Sungguh, betapa kurangnya empati di saat-saat seperti ini. Kadang, saya ingin kembali ke masa lalu, ingin kembali berteriak lantang melawan ketidakadilan.

Salam perjuangan. Ingatlah perjuangan Widji Thukul yang luar biasa lewat kata-kata.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==