Oleh: Zaeni Boli
Kecintaan Ibu pada buku sudah ada sejak dulu. Setiap hari, meski usia tak lagi muda, Ibu tetap membaca buku. Kegemarannya itu pun terwariskan kepada cucunya—yaitu anakku. Meski belum pandai membaca, Alesha sangat suka dibacakan cerita anak. Terkadang, bisa sampai tiga hingga lima buku dilahap setiap harinya. Ini adalah kebiasaan baik yang diwariskan dari neneknya, yaitu Ibuku.
Saking banyaknya buku yang dimiliki, hampir-hampir rumah sekecil yang mereka diami tak cukup lagi menampung semuanya.

Pada momen Hari Pendidikan Nasional tahun 2025, Flores Timur mengadakan acara besar di Kecamatan Adonara, yang berfokus di SMA/SMK Suryamandala. Karena letaknya dekat dari lokasi acara, sejak kedatangan pada tanggal 30 April 2025 hingga kini, tanggal 2 Mei, saya memilih beristirahat di rumah orang tua.
Saat baru pertama datang saja, saya langsung disodori buku yang belum sempat saya baca hingga sekarang—karena kesibukan dan padatnya agenda kegiatan yang saya sebutkan di atas.
Namun, dari sekian banyak percakapan, perintah, dan nasihat yang beliau sampaikan, perhatian saya justru tertarik pada satu hal: rak buku yang unik—terbuat dari kulkas bekas yang tak terpakai.


Kulkas itu adalah kulkas yang rusak saat banjir bandang tahun 2021 lalu. Meski sudah tak berfungsi, kulkas itu tetap dibawa pulang, mungkin karena belum ada rezeki lebih untuk membeli yang baru. Daripada dibuang, kulkas bekas itu dimanfaatkan sebagai rak buku.
Sesuatu yang kreatif dan bermanfaat—yang dipraktikkan sendiri oleh Ibu di dalam rumahnya.



