Tapat pada pukul 08.18 WIB kami sampai di Ombudsman RI. Sambutan hangat dari para panitia penyelenggara bedah buku Kisah Seorangg Pionir – Sepuluh Tahun Memandu Ombudsman Bali karya Umar Ibnu Al-Khattab —menyilakan kami beristirahat sejenak.

Gol A Gong dan Rudi ditemani Wanton Sidauruk Kepala biro Humas dan TI Ombudsman RI. Mereka sedang memperbincangkan fungsi Ombudsman dan juga membahas buku yang akan dibedah.
Waktu begitu cepat, panitia memadu jalannya acara. Pada pagi ini, bukan cuma membincangkan buku Ibnu Umar, tetapi juga meresmikan Pojok Baca Digital (POCADI).

Turut hadir dalam acara ini Muhammad Syarif Bando – Kepala Perpustakaan Republik Indonesia, Bobby Hamzar Rafinus Wakil Ketua Ombudsman RI beserta jajaran anggotanya.


Peresmian POCADI secara simbolis telah disahkan pada Rabu, 13 Juli 2022 dengan cara memotong pita.

Pihak Ombudsman berharap, Perpusnas RI menghibahkan 2 Pocadi lagi di Lampung dan Bali. Perpusnas RI siap mempertimbangkan.

Setelah selesai acara peresmian POCADI Ombudsman RI, panitia penyelenggara melaksanakan bedah buku.

Buku Kisah Seorang Pionir – Sepuluh Tahun Memandu Ombudsman Bali Karya Umar Ibnu Al-Khattab tidak tanggung-tanggung dibedah oleh empat orang, di antaranya: Wanto Sidauruk, Yeka Hendra Fatika, Deddy Irsan dan Gol A Gong.

Acara bedah buku ini dipandu oleh Merry Rosmala. Merry menyilakan Umar Ibnu Al-Khattab untuk memaparkan tentang buku yang ditulisnya tersebut.
Umar menjelaskan bahwa buku yang ditulisnya sebagai tanda bentuk pengabdiannya setelah selesai sebagai Kepala Ombudsman Bali selama sepuluh tahun, maka ia menuliskan jejaknya dalam bukunya.

Menurut Umar, buku ini ditulis selain meninggalkan jejak juga bertujuan untuk memberi pelajaran kepada Ombudsman di seluruh Indonesia.
Ada satu hal yang membuat saya tertawa, sebab Umar menjelaskan bukunya beberapa kali dikritik orang karena dia menuliskan kisahnya sendiri dan mengaku-ngaku sebagai Pionir Ombudsman Bali. Kata Gol A Gong, “Umar layak sebagai pionir karena strateginya mengenalkan Ombudsman Bali kepada publik sangat inovatif.”

Tapi pada realitasnya yang dibagikan dalam 18 belas kisah bukunya, Umar adalah perintis Ombudsman Bali dari titik terendah sampai bisa seperti sekarang yang dipandang baik.

Komentar Para Pembedah
Dari semua pembedah menurut saya hampir semua memuji tulisan Ibnu Umar Al-Khattab, namun ada satu yang membuat saya agak mendengarkan serius, yaitu masukkan dari Wanto Sidauruk.

Wanton Sidauruk bahwa kisah yang ditulis oleh Umar tidak beraturan bisa dibilang selalu loncat-loncat sehingga logika penceritaannya kurang begitu bisa dinikmati.
Wanton menyarankan kepada Umar agar bukunya ditulis secara sistematis dengan mengurut kisah-kisahnya menjadi beberapa bab, baik kisah prihatin maupun kisah yang membahagiakan.

Dengan cara begitu menurut Wanton, para pembaca bisa menikmati alur ceritanya dengan baik dan tidak ditulis seperti yang awal yaitu hanya kisah satu sampai kisah ke depalan belas.

Pada pamungkasnya, Gol A Gong membedah buku Umar bermula dengan ilmu jurnalistik dasar yaitu menggunakan rumus 5W+1H dan mengkaji dampak daripada buku tersebut.
Menurut Gol A Gong bahwa buku Umar memiliki dampak pada sesama Ombudsman dan juga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gol A Gong juga memuji Pustaka Pelajar yang berani menerbitkan buku yang tokohnya tidak begitu dikenal.

Gol A Gong sendiri menjelaskan bahwa kebaikan di era digital boleh dipublikasikan untuk melawan kejahatan. “Nah, apa yang dilakukan oleh Pak Umar ini harus kita dukung. Dia menyebarkan kebaikan apa yang telah dilakukan,” kata Duta Baca Indonesia ini.

Penulis 126 buku ini menyarankan bahwa buku Sang Pionir Sepuluh Tahun Memandu Ombudsman Bali perlu diperbanyak dan dibaca oleh khalayak luas.*
Baca selengkapnya ulasan Gol A Gong di tautan ini: https://golagongkreatif.com/2022/07/12/sang-pionir-ombudsman-bali-veni-vidi-vici/



