Kita sering mendengar bahwa transportasi becak itu melanggar hak asasi manusia. Si penumpang sudah bersikap tidak adil terhadap si pengayuh becak. Tidak ada kesetaraan. Terkesan ada eksploitasi.


Jika kita traveling ke beberapa kota di Indonesia, becak dengan tenaga manusia hampir tidak ada lagi. Rata-rata sudah dibantu dengan tenaga mesin. Maka jadilah bentor alias becak motor. Di Sumatra rata-rata menggunakan becak motor. Di Indonesia timur malah tidak ada becak. Tapi jika masih ada, city tour naik becak asik sekali.

Di India, becak masih mendominasi Tapi si pengayuhnya berada di depan. Sedangkan di Kamboja, becak masih jadi primadona. Di hampir setiap kota, becak mendominasi walaupun sudah ada beck motor seperti tuk tuk di Thailand.

Nah, dalam setiap novel yang kita tulis, transportasi lokal ini sangat menark untuk dijadikan properti. Setting lokasi di kota-kota kecil masih memungkinkan adanya becak. Para tokohnya tidak selalu harus menggunakan kendaraan bermotor, tapi berangkat ke tepat kerja bisa saja menggunakan becak. Misanya dalam sebuah bab novel:

“Aku antar pulang, ya,’ Tomi melongok dari jendela mobilnya.
“Nggak usah. Saya sudah ada yang menjemput,” Renata tersenyum dan menunjuk ke arah kanannya.
“Hah? Hari gini masih naik becak?”
“Pertama, berbagi rezeki. Kedua, melestarikan jenis transportasi idola orang tua kita!” Renata naik ke becak. Teman-teman di sekolahnya memang rata-rata naik motor, bahkan ada yang naik mobil seperti Tomi.
Nah, mumpung becak belum hilang, ayo, segera selfie dengan becak. Kalau perlu, lestarikan satu beca dan simpan di halaman rumahmu.


