Musnahnya Desa Senggolo Joyo di Novel “Lelaki di Tanah Perawan”

Sejak 20 Maret 2020 – saat lockdown alias work from home gara-gara pandemi Covid-19, saya menulis novel Lelaki di Tanah Perawan. Setting lokasinya di Desa Senggolo Joyo dengan daya tarik makam keramat dan perawan desa, terancam musnah oleh virus Corona. Setting lokasi utamanya di desa Senggoolo Joyo, yang saya adaptasi dari sebuah desa di tengah hutan Kalimantan. Transportasinya perahu.

Penggambaran desa Senggolo Joyo adalah sebuah alun-alun yang dibelah dua untuk terminal bus dan taman desa. Persegi empat itu dikelilingi masjid dan pondok pesantren di barat, hotel di timur, pasar tradisional di selatan, utara polsek dan puskesmas. Ada patung Ki Senggolo Joyo, sang founder yang makamnya dikeramatkan kira-kira 5 km sebelah selatan, terletak di bukit.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Pedagang Buah di Trotoar Samping Gedung Juang 45 Kota Serang

Pandemi Covid-19 ini tidak membuat warga Kota Serang berputus asa. Mereka tetap bersemangat menafkahi keluarganya walaupun harus melanggar aturan, menggunakan trotoar untuk berjualan. Kita harus memakluminya. Silakan belanja buah-buahan yang segar-segar di sini, tepatnya di samping Gedung Juang 45, Kota Serang, arah Masjid Tua Kaujon, jembatan Cibanten. Mari, kita sharing ekonomi.

Nah, bagi seorang penulis, peristiwa ini bisa dijadikan setting lokasi di dalam novelnya. Dalam imajinasinya, para tokoh bisa hadir di sini; mereka berbelanja lalu berkonflik. Jadi, jangan sia-siakan setiap peristiwa yang hadir di depan mata kita. jangan sekadar dilihat, tapi temukan peristiwa yang tersembunyi di baliknya!

#infoserang #banten #golagong

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Bunga Wijaya Kusuma Itu Mengingatkanku Kepada Bapak dan Emak

Setiap malam, Bapak dan Emak mengajak anak-anaknya ke teras rumah. Kami duduk minum teh, menunggu bunga Wijaya Kusuma mekar. Harumnya semerbak. Aku masih di SD dan SMP saat itu (1976-79). Emak senang bunga itu.

Sedangkan Bapak, senang wayang golek. Mitosnya bunga ini membawa berkah. Juga pusaka Batara Kresna. Saat ke India, saya sempatkan mampir ke kota kecil Kurusetra, tempat perang Bharatayuda.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Mengecat Pagar Jadi Cerita Pembuka Novel

Setiap hari banyak peristiwa terjadi di sekitar kita. Itu semua bisa kita olah jadi cerita unuk novel yang akan kita tulis. Seperti pada Minggu 5 Juli 2020. Abdul Salam – Presiden Rumah Dunia 2019-2024 dan relawan memagar areal Rumah Dunia seluas 3000 m2. Lalu para relawan komunitas literasi mengecat pagar itu. Nah, jika kita sekadar melihat, maka menguap. Amati dan cermati. Ini menarik untuk dijadikan setting cerita dan lokasi. Peristiwa kecil yang berdampak besar bagi lingkungan ini sangat potensial dan bisa menjadikan novel kita “alamiah”.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Bagaimana Menulis Setting Lokasi yang Baik?

Di cerpen atau novel yang akan kita tulis, pemilihan setting lokasi sangatlah penting. Setting lokasinya fakta atau khayalan? Bagaimana menuliskannya? Memberitahukan kepada pembaca atau membiarkan pembaca berimajinasi?

Ada penulis yang memberi tahu kepada pembaca:

“Kantin, pagi hari.” Ini cenderung mematikan imajinasi pembaca, tetapi tidak dilarang.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5