Saat itu, Indonesia dipimpin oleh Presiden bernama Aryo yang telah memimpin sejak tahun 2024. Sistem demokrasi dengan pemilu telah dihapus. Masyarakat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu golongan emas yang merupakan pemimpin tertinggi negara, golongan perak yang merupakan gen unggul penjaga negara, dan golongan perunggu yang merupakan rakyat jelata.
Novel ini diceritakan dari sudut pandang Agni berformat catatan harian. Agni adalah pemuda berusia 19 tahun dari golongan perak yang sedang menjalani pendidikan khusus dari pemerintah dan akan dilantik sebagai Pilar Pancasila pada tahun 2045.

Meski Indonesia negara maju, tapi sangat mengekang kebebasan warganya. Rakyat dituntut untuk setia pada negara, sedangkan pengaruh budaya non-Indonesia dilarang dan kebebasan berpikir diawasi dengan ketat. Hukuman bila melanggar adalah penjara hingga hukuman mati.
Suatu hari Agni menemukan sebuah buku tulis bersampul hitam di toko loak. Saat itu seluruh komunikasi dilakukan secara digital. Warga Indonesia tidak lagi mengenal tulis menulis di atas kertas. Tapi Agni melawan peraturan negara dengan menulis berbagai pemikirannya di buku secara sembunyi-sembunyi. Setelah itu peristiwa-peristiwa aneh mulai bermunculan.

Setelah belasan tahun Indonesia damai, tiba-tiba terjadi serangan teroris di wilayah Kalimantan bekas Malaysia. Saat pelaku diinterogasi, ternyata salah satunya mengenal ayah Agni yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil saat Agni kecil. Teroris itu mengatakan bahwa ayah Agni bukan kecelakaan, tapi dibunuh. Rasa curiga membuat Agni menyelidiki kematian ayahnya dan menemukan fakta demi fakta yang menguak berbagai kebusukan pemerintah di balik kemakmuran Indonesia.
Novel dengan unsur science fiction dystopian memberi nafas baru di tengah dominasi novel romansa yang kadang terkesan monoton.
Premisnya mirip novel 1984 karangan George Orwell tentang pengekangan kebebasan berpikir oleh negara. Tapi penulis mengembangkan premisnya dengan ciri khas Indonesia dan plot yang menarik. Meskipun format novelnya journal entry, namun itu tidak menghilangkan unsur keseruan dalam mengikuti jalan ceritanya.

Pengekangan kebebasan berpikir pernah terjadi di Indonesia pada masa orde baru, di mana rakyat tidak bisa bebas berpendapat, terutama yang mengandung unsur kritik pada pemerintah. Tentu kita tidak menginginkan hal itu kembali terjadi di masa depan.
Novel ini berpesan bahwa Indonesia bisa menjadi negara maju dan makmur, tapi bila rakyatnya dininabobokan oleh kenyamanan yang menumpulkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis maka ada harga mahal yang harus dibayar.
Judul Novel : Hitam 2045
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Bukune
Tahun Terbit : 2022
Jumlah Halaman : 560 halaman

