Dulu, aku bukan tipe orang yang suka kerja kelompok. Waktu SMA, aku sering merasa terbebani karena ada anggota kelompok yang suka gak berkontribusi, terus ujung-ujungnya aku yang harus mengerjakan semuanya. Tapi, aku juga sadar kalau saat itu aku salah, aku malah diam, padahal kalau aku lebih berani berkomunikasi, mungkin masalah itu bisa diselesaikan. Saat itu, aku masih nyaman sendiri, merasa gak perlu membangun kerja sama dengan orang lain.


Tapi, semuanya berubah ketika aku mulai kuliah dan merantau ke Bandung. Jauh dari rumah membuatku sadar bahwa aku harus belajar beradaptasi jika ingin bertahan. Gak ada lagi zona nyaman, gak ada lagi rasa aman karena selalu punya orang-orang terdekat di sekitarku. Di Bandung, aku harus menghadapi tugas-tugas kuliah yang sebagian besar berbentuk proyek kelompok. Aku mulai paham bahwa dalam kehidupan perkuliahan (mungkin juga di dunia kerja nanti), kerja sama bukan sesuatu yang bisa aku hindari.

Adaptasi kolaboratif ini aku mulai dari hal kecil, yaitu belajar berkomunikasi dalam kelompok. Aku berusaha untuk lebih terbuka, menyampaikan pendapat, dan mencari cara agar semua anggota bisa berkontribusi dengan adil. Aku gak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti saat aku di SMA. Dimana aku hanya diam ketika merasa keberatan. Sekarang, aku mulai memilih untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama.


Kedengerannya sederhana ya? tapi perubahan ini gak instan. Tapi dengan begitu, aku berkembang. Aku gak lagi melihat kerja kelompok sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Mungkin aku masih lebih nyaman bekerja sendiri dalam beberapa hal, tapi seenggaknya, aku udah gak lagi menghindari kerja sama. Aku belajar bahwa di dunia yang lebih luas, bertahan sendirian itu sulit, dan ada kalanya, kita emang harus berjalan sama orang lain.
*) Bandung, 12 Februari 2025
*) Natasha Harris, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Korea, UPI Bandung dan Relawan Rumah Dunia



