Di akhir 1999 itu saya sangat bersemangat sekali. Saya bongkar-bongkar “harta karun” saya. Beberapa cerpen langsung saya re-write. Al-Quran bergeletakan di meja kerja saya. Sungguh, darah saya mulai mendidih lagi. Kelima jari saya mulai tak bisa diam. Cerita islami, cerita islami, saya datang sekarang. Kepala saya seperti hendak meledak. Penuh, penuh, penuh dengan ide-ide yang ingin segera dituangkan.

Lalu lahirlah antologi berdua (bersama HTR); Nyanyian Perjalanan. Saat launching di aula Salman ITB, saya mulai bertatap muka dengan HTR, Asma, Pingkan, dan Halfino. Dada saya bergemuruh. Ada sesuatu yang lain ketika saya duduk di depan para wanita berjilbab dan para pria yang santun dan bersahaja. Saya merasa seperti berada di suatu tempat yang damai. Saya seperti terlahir kembali…

Dan ketika saya mendapat giliran bicara, tenggorokan saya seperti tersumbat. Bibir saya kelu. Keharuan menyreuak. Dada saya sesak. Ada rasa kebahagiaan yang sulit saya lukiskan. Andai saja HTR tidak menyambar mickrofon dan mengalihkan perhatian dengan topik lain, saya pasti akan menangis.

Setelah peristiwa itu, saya makin mencintai FLP dengan cerita islaminya. Lahirlah “Al Bahri – Aku Datang Dari Lautan” (Asy Syaamil), yang dijadikan mini seri oleh PT. Indika dan tayang saat puasa 2001 di TV7. Kemudian novel trilogi “Pada-Mu Aku Bersimpuh” (DAR!MIZAN), yang sukses diangkat ke sinetron ramadhan oleh Indika di RCTI pada 2001. Bahkan diputar ulang di LATIVI pada puasa 2003 lalu.


