Oleh: Zaeni Boli
Entah apa esensinya menyalakan kembang api saat perayaan tahun baru. Bagi kaum mendang-mending dari kalangan keluarga prasejahtera, hal tersebut adalah pemborosan yang tak perlu dilakukan. Alih-alih membeli kembang api, keluarga prasejahtera lebih membutuhkan beras untuk makan sehari-hari. Kalau pun ada beras, biasanya itu adalah beras paling murah yang dibeli saat operasi pasar digelar oleh Bulog dan pemerintah daerah.

Mungkin, bagi sebagian orang, kembang api adalah bentuk eksistensi dan ekspresi kaum berpunya. Sebut saja, misalnya, sepasang suami istri yang keduanya berprofesi sebagai PNS dengan slogan dua anak cukup. Dengan keluarga kecil seperti itu, mereka tentu memiliki peluang besar untuk merayakan tahun baru dengan meriah—ditambah lagi dengan liburan ke luar kota.
Mungkin juga pemborosan semacam itu adalah hak yang memang dimiliki oleh kaum berpunya. Namun, hal itu terasa ironis ketika kita menyadari bahwa sangat mungkin tahun ini (2025) akan menjadi tahun yang penuh cobaan. Tahun yang bisa saja menjerumuskan kita semua ke dalam lubang kemiskinan, seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Potensi ke arah itu mulai terlihat jelas, apalagi dengan adanya kebijakan pemerintah yang dinilai memberatkan, seperti kenaikan pajak PPN sebesar 12%.
Kembang api yang dinyalakan saat hujan turun pun terasa seperti sebuah isyarat. Isyarat duka yang belum tuntas, mengenang orang-orang baik yang lebih dulu menghadap Allah SWT.


