Saat ini, Maksi Masan mengabdikan diri di SMPN 1 Lewolema sebagai Guru IPA. Selain menjadi Guru IPA, Maksi aktif menghidupkan Komunitas Literasi SMPN 1 Lewolema yang telah Ia gagas sejak tahun 2015. Berdiri di tahun 2015, Komunitas Literasi SMPN 1 Lewolema langsung menunjukan Prestasinya. Tahun 2016, Anggota Komunitas Literasi SMPN 1 atas nama Priska Lolita Prada Ruron, meraih Juara III Lomba Menulis Sanitasi Sekolah dan diundang mengikuti Jambore Sanitasi di Jakarta.
Tahun 2018, Komunitas Literasi SMPN 1 Lewolema menerbitkan buku BerISBN dengan judul mata pena. Tahun 2019, Anggota Komunitas Literasi atas nama Elisabeth Bota Ruron, keluar sebagai Juara I Lomba Menulis Essai tentang kearifan lokal menjaga alam dan diundang mengikuti Festival Literasi di Jakarta. Tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19, Komunitas Literasi SMPN 1 Lewolema menerbitkan 5 Buku berISBN. Dalam rancangan tahun 2023, kembali komunitas kreatif ini melahirkan buku dengan judul ” Memeluk Semesta”.
Maksimus Masan Kian, memiliki 1 istri, Agnetis Da Noa, PNS Guru di SMPK Baipito Watowiti, memiliki tiga putra, Leopold Mandic Damian Tanah Boleng (Ian/ 15 tahun), Fransesco Mayesto Tanah Boleng (Ama/ 12 tahun), Emanuel Literatcio Tanah Boleng (Literasi/ 5 tahun)
Bagi Maksi, tidak harus menjadi seorang pejabat besar untuk melakukan sebuah karya besar. Cukup jadi guru kecil, tetapi berwawasan global, berpikir besar dan bertindak cerdas.
Bagi seorang inovator, konsep perubahan melibatkan keberanian untuk mengeksplorasi ide-ide baru, adaptabilitas terhadap lingkungan yang berubah, dan keterbukaan terhadap feedback konstruktif.
Inovator juga perlu memiliki kemampuan untuk memimpin perubahan, mengatasi hambatan, dan memotivasi orang di sekitarnya untuk merangkul ide-ide inovatif.


