Puisi Esai Gen Z: 3 Hari di Laut: Mengapa Berhadiah Vonis Hukuman Mati? Karya Ermira Nilansari Putri

Seorang awak kapal yang baru saja bekerja kira-kira selama 3 hari ditangkap oleh aparat setelah menemukan narkoba di kapal tempatnya bekerja. Awak tersebut memberikan pengakuan bahwa tidak mengetahui adanya barang terlarang tersebut di kapal, namun namanya ditetapkan sebagai salah satu tersangka utama dalam kasus penyelundupan. Proses hukum berlangsung cepat, awak tersebut dinyatakan bertanggung jawab atas muatan ilegal yang ditemukan. Putusan pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati, sehingga kasus ini mendapat sorotan dan perdebatan luas mengenai keadilan serta perlindungan bagi pekerja tingkat bawah.

https://www.tvonenews.com/channel/news/367629-abk-diduga-terlibat-penyelundupan-2-ton-narkoba-pengacara-dia-semacam-dijebak

Hari ke-1 berkelana di tengah laut biru—
Ini adalah awal perjalanan.
Engkau terlihat bersemangat di hari pertama bergabung dengan awak kapal.
Engkau menatap hamparan tanpa ujung.
Laut biru itu memancarkan kesan pertama berupa kehidupan yang asin, namun terisi penuh oleh harapan.
Teriakan ombak terdengar nyaring ditelinga kami memanggil dengan hangat.
Laksana seorang ibu yang tak kuasa melepas buah hatinya untuk kerja pertama kali.

Hari ke-2 berkelana di tengah laut biru—
Ini adalah awal untuk membiasakan diri dengan segala wujud anomali.
Kapal seberat berton-ton ini berderit pilu.
Menuntun jalannya angin agar bisa menepuk bahu.
Langit biru seolah sedang melukis mimpi-mimpi hebat awak kapal.
Digelar tanpa ada rasa curiga.

Hari ke-3 berkelana di tengah laut biru—
Ini adalah awal untuk menuntun kaki menapaki jalan para tulang punggung keluarga yang sedang berjuang dengan berburu.
Tanpa ada aba-aba pintu palka dibuka buru-buru.
Mulai detik inilah dunia kami para awak kapal berubah warna menjadi abu-abu.

Jutaan serbuk putih ditemukan tak bertuan—
sekantong karung,
dua kantong karung,
Tak tahu ada berapa banyak kilogram tuduhan.
Siapa yang membawa barang laknat ini?
Mengapa harus kami yang bertanggungjawab?

Ironis sekali raga ini dituduh melakukan tindakan ilegal,
Aku tahu engkau baru saja belajar cara mengoperasikan arah kompas.
Baru saja menghafalkan perbedaan bunyi mesin dikapal.
Akan tetapi namanya telah ditulis dengan tinta pengadilan.
Dengan tinta paling hitam yang ditemui selama hidupnya.

Laut biru yang awalnya ramah,
berubah sunyi dan membisu tak berniat membela sama sekali,
ombak beramai-ramai menggulung dirinya laksana seorang hakim yang tergesa-gesa,
engkau hanya ditemani oleh bisikan angin yang berhembus,
“Siapa sebenarnya dalang yang bersembunyi?”

Engkau memekik dengan lantang hingga pita suara mengeluh sakit—
sekali,
dua kali,
seribu kali—
bahwasanya engkau tak tahu,
bahwasanya engkau hanyalah seorang awak baru,
bahwasanya engkau baru saja 3 hari berkenalan dengan kapal itu.

Namun, engkau terkunci dalam ruang sidang yang lebih dingin dibandingkan dengan dasar samudra,
muncul 2 kata “kambing hitam” yang menjelma menjadi sosok bayangan kelam,
yang melekat di dinding ruang sidang,
tak mampu dihapus dengan mudah.

Vonis menghunjam tanpa sinyal,
bergerak secepat kilat membelah langit malam,
lebih keras dibandingkan badai bulan Desember,
lebih keras dibandingkan jangkar besi yang mengikat kapal.

Vonis telah lolos dibacakan pukul 09.00 WIB,
engkau merasakan waktu membeku di angka itu tanpa berniat untuk terus berjalan.
Langit itu sudah tidak bernyawa,
menunduk lesu tanpa daya,
kursi terdakwa gemetar,
bahkan bisa kupastikan mendengar dentuman palu yang mulia hakim yang terdengar penuh keraguan,
ketika palu itu menghantam meja.

Ironis sekali raga ini dituduh semena-mena—
padahal sejatinya berlayar untuk mencari nafkah halal,
tak disadari harus berpapasan dengan keadilan yang ditenggelamkan secara sengaja.

Ketika malam nanti tiba,
hanya mampu memeluk tubuh yang dingin tanpa nyawa,
sementara itu hukum tetap berdiri dengan angkuhnya,
memberikan dakwaan,
menuntun terdakwa,
menyudahi kisah.

Ribuan pertanyaan masih berlarian diotak kami:
Seolah ingin sebuah jawaban yang pasti.
Apa keadilan selalu berwujud hitam dan putih?
Apa sebenarnya ada bayang-bayang hitam yang tak pernah diadili?
Di mana sebenarnya dalang perbuatan keji ini?
Kapan sosok keji itu menyusun rencana raksasa ini?
Siapa yang masih ingin menggenggam tanganku dan menguatkan raga ini?
Mengapa harus kami?
Bagaimana cara agar kami bisa keluar dari skema yang telah mereka tulis?

Tentang penulis:

Ermira Nilansari Putri guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 3 Jatisrono. Menenun perjalanan intelektualnya melalui jejak pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia dan PPG Prajabatan 2024. Aku perempuan yang betah berlama-lama di antara buku. Kadang menulis puisi, kadang hanya menikmati cerita orang lain. Sastra jadi tempat pulang ketika dunia terasa ramai.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==