Jika kutulis puisi rel kereta bunyi peringatannya pintu perlintasan ditutup orang-orang menunggu namun bergegas adakah engkau menungguku di setiap perhentian? sedangkan aku belum memiliki tiket
Kali ini aku tak tahu Engkau bersembunyi di mana menyuruhku membeli tiket jurusan mana berhenti atas perintahmu di stasiun mana
Akankah ada penyambutan karpet merah dan doa taburan bunga dan tangisan untukku yang selalu membuat arah baru perjalanan?
Itulah sebabnya aku menolak berhenti aku masih ingin melihat panjangnya rel kereta banyaknya stasiun tanpa perlu berhenti