Empat tahun sebelum membaca buku karya Multatuli untuk kedua kalinya, bersama dua orang kawan, saya sempat mengunjungi cagar budaya yang dahulu merupakan rumah Multatuli di Rangkasbitung. Letak tepatnya berada di areal belakang Rumah Sakit Adjidarmo. Apa yang saya temukan di sana sungguh di luar ekspektasi. Alih-alih rumah bekas kediaman Multatuli yang terawat dan dipenuhi benda-benda bersejarah, rumah dengan kondisi mengenaskanlah yang saya temukan.

Rumah tersebut dibiarkan rusak dan tak terawat. Plang bertuliskan “Cagar Budaya Rumah Multatuli” yang sudah rusak dan berkarat pun dibiarkan tersandar begitu saja di salah satu sisi dinding depannya. Aroma kotoran kambing dan kerbau, juga bau pesing menguar di sekitarnya.
Semua pengalaman tadi bisa kamu baca dalam kelima puisi saya berikut ini. Selamat menikmati!
El Rui


El Rui
Tembang Bagi Droogstoppel
Aku makelar kopi
tinggal di Lauriergrach no. 37
amsterdam
Kata-kata itu berulang kali diterakannya
pada halaman belakang nota pesanan
sebelum malam mengantarnya menuju ranjang
Saat lampu kamar ia matikan
satu kalimat tanya yang ditemukannya
dalam salah satu komposisi tulisan stern
menjelang: mengapa ada ratapan
di ladang-ladang?
Aku makelar kopi
tinggal di Lauriergrach no. 37
Amsterdam
Dingin menyumbat pikiran
menyumpalkan kelebat gambaran
pinggiran jalan berlumpur
menuju badur
Kau tak pernah mengenal
seperti apa rupa kelaparan, tuan
Tak pernah tahu
berapa lama lebam bekas pemerasan
dan penindasan akan tetap bertahan
seberapa dalam luka sabetan parang
dan kelewang dan cambukan
mengubur kehormatan dan keberanian
Tuan Droogstoppel yang malang
Tuhan tak cuma hadir di gereja-gereja,
bursa, dan limpahan harta benda
Droogstoppel duduk diam di atas ranjang
membayangkan parang
membayangkan kelewang
membayangkan Tuhan yang meresap
pada ratapan di ladang-ladang
distrik parangkujang
| 2019˗2023 |

El Rui
Satu Adegan yang Tak Pernah Dikisahkan
Sehari sebelum bapaknya membawa ia pergi
adinda menanti di bawah pohon ketapang
mengharap saidjah salah perhitungan
pulang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan
Hanya ada seekor tupai
mengawasinya diam-diam
dari balik semak belukar
Sekejap teringat ia akan mimpinya semalam:
di hulu sungai cibeurang
sebuah lesung dengan 32 takikan
di tubuhnya tenggelam
Di semak belukar
seekor tupai melihatnya
memilin-milin kain hasil sulaman
dengan dada bergetar
Seekor kepik merah tua
hinggap di rambutnya
seakan membacakan mantra bagi cuaca
gerimis turun dari mata adinda
| 2019˗2023 |

El Rui
Setelah Kepergian di Parangkujang
Ketika sepotong pagi
tak lagi mampu menjanjikan
kicau burung di dahan-dahan
meski cuaca basah
jalan setapak menuju sawah-sawah
di parangkujang
tetap sepi dari jejak para pembajak
Daun-daun berhenti menghitung
langkah para petani
hanya ada jeri tersungkur pada
keloneng tua
yang mengigau sendirian
di atas sisa pembakaran
semalam
lainnya
hanya hantu-hantu
gentayangan
| 2019˗2023 |

El Rui
Pada Kisah Saidjah Adinda
Pada kisah saidjah adinda
kutemukan selarik pesan
tertulis di sana
meski lemah
api perlawanan masih menyala
Pada sebatang sungai penghubung
rangkasbitung dan lampung
rindu saidjah pada adinda berlayar
menjumpai ajal
Pada lubang menganga di dada
sisa api pemberontakan meresap
dalam amis darah dan hasrat
mengakhiri penderitaan
| 2015˗2024 |

El Rui
Menjenguk Multatuli
Di hadapan nama sebuah cagar budaya
dalam lingkaran rumah sakit adjidarmo
aku menakar ingatan tentang kesakitan
penduduk distrik parangkujang
lewat aroma pesing juga kotoran kambing
tentang keinginan memutus penyiksaan
yang kau titipkan pada max havelaar
Sepasang mataku berdenyar memandangi
namamu di antara tumpukan
rongsokan dan rerumputan
begitu buram
usang dan
menyedihkan
serupa kematian yang lama diabaikan
Sementara di jalan-jalan rangkasbitung
kutemukan berbagai slogan
barangkali tak penting lagi sebuah
kebenaran setelah ratusan tahun
mengendap dalam tulisan yang lama
diteggelamkan dan ditinggalkan
Mereka lupa atau mungkin buta
sejarah penyiksaan masih terus berulang
dan memusar
pada peluh para petani dan pedagang
yang pecah dihantam khayalan tentang
masa depan dan berakhir di brankar-brankar
yang menolak bergerak menuju pintu keluar
| 2015˗2024 |


TENTANG PENULIS: El Rui, lahir dan tinggal di Kota Serang. Penjual buku yang menyukai puisi. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dimuat di beberapa koran harian lokal dan nasional menggunakan nama lain. Tulisan-tulisan terbarunya bisa kamu baca di Medium, IDN Times, dan blog pribadinya: penghunipluto.wordpress.com.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

EDISI MINGGU DEPAN, 11/I/17 MARET 2024:


