Radja Sinaga
Tamu yang Jauh
tak lama lagi Tuhanku datanglah
masuk ke rumah saya
yang akhirnya dilahap nyala
sebab berdiding rajutan dedaunan kelapa
sebab bata, semen, dan air mahal harganya
jauh dijemput dari kota
selasarnya amis darah
tempat saya mengeringkan bermacam hasil kebun
untuk hidup berempat
dan tak bisa meralat
hidup terlanjur melarat
tak lama lagi Tuhanku datanglah
hanya air putih dan ubi
atas musafirmu
melintasi belukar
becek jalan
ngarai sungai
saya tahu itu tak pernah cukup
ketika kau melanjutkan perjalanan
menandai daerah-daerah di peta
dengan darah yang mengucur
di telapak tangan dan yang menetas di keningmu
biarkan saya membopong ekor salibmu
menuju Kerajaan Sorga?
bawa saya masuk sana
rumah ini tak lagi bisa dihuni
aromanya gosong dan kosong
jauhkan saya dari kesepian
dan tanah sudah menolak
manusia-tak-berkepala
2020-2024
Ilustrasi: Genus Daquinan

Radja Sinaga
Advent & Pamit
: setelah Sigi
tidak ada advent tahun ini
mereka pamit setelah api meliuk-liuk di pematang mata
tubuh terbagi dua:
adakah kepala menjelma darah dan badan ialah roti tak beragi?
Bapa berpesan hutan adalah ibu
ayah yang mengeloni sepanjang lenguh nafas
tapi yang mereka lihat selongsong peluru mengoyak entah
selain organ rentetan tembakan juga merdu
mungkinkah Bapa terhibur?
di jauhan presiden tidur
anjingnya berjaga di bibir kasur
menggonggong ia, ngilu kita cecap
apa yang membuat kita bertahan
hidup selain penyesalan?
Ilustrasi: Maulana Putra

Radja Sinaga
MIT & IMB
dan di mana kita
saat empat anak Bapa minggat
di Jumat berkah, sebelum Advent pertama
hanya angkaangka bertunas kecemasan
kita terlambat membaca hari
ketidaksesuaian membuat kita linglung
tapi tak juga meminta pengharapan
bisikannya mencelakakan diri
dan di mana kita
saat enam rumah anak Bapa nyala
akhir sebelas, sebelum Perjamuan Kudus
konflik mekar, kita alpa belajar
dengung ralat seperti lonceng
tapi kita tak butuh lonceng
rumah pelayanan sudah sumpek
berkasberkas pengajuan mendirikan gereja
yang malangnya ikut nyala.
2020-224
Ilustrasi: Baw Gaj

Radja Sinaga
Yang Bukan Maria Magdalena
: Ulin
kau tak bisa menjadi Maria Magdalena kedua
melahirkan di kandang domba
sebab yang kau miliki hanya rumah
menolak roboh–pada akhirnya
diperkosa separatis bersenjata—
dan tak tega memisahkanmu dari kemiskinan
Lembontongoa tidak memiliki Dolorosa
yang mula-mula dari Antonia
ujungnya Gereja Malam Kudus
sejauh 2000 kaki
Lembontongoa yang kau kenal
perdu pohon dan nyanyian satwa
tanah menanjak, di satu sudut desa
rumah pelayanan ibadah
yang sumpek berkasberkas pembangunan gereja
kau tak bisa menjadi Maria Magdalena kedua
melahirkan tanpa persetubuhan
sebab kau ingat Guru Sekolah Minggu
berkhotbah kedatangan Yesus yang kedua
membawa kiamat segala.
2020-2024
Ilustrasi: Tatsuo Suzuki

Radja Sinaga
Tubuhmu Minggu
tubuhmu minggu
diciptakan di hari peristirahatan
yang sambil melantunkan pujapuji
kau dinamakan dengan kekudusan
yang akhirnya dibaca di dalam bible
pada liturgi atau minggu lainnya ketika khotbah
tubuhmu minggu
yang berhenti melenguhkan nafas
di jumat oleh parang dan kelaparan saparatis bersenjata
kau disemayamkan gemuruh tangis
galian tanah ditimbun kembali
seirama notnot organ mengantar 4 peti
2020-2024
Ilustrasi: Wolfgang Stiller


Tentang Penyair: Radja Sinaga, lahir di Medan dan kini menetap di Jogja. Alumni Kelas Menulis Prosa Balai Bahasa Sumut 2019. Menulis esai, puisi, dan prosa. Sejumlah tulisannya telah dimuat di berbagai media. Buku tunggal pertamanya, Pearaja Seribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh (2023)

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar/foto/ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


