Menyambut Hari Ibu Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, saya memaknai sosok Ibu sebagai sosok yang tak lekang waktu: cintanya, pengorbanannya, keikhlasannya, dan seluruh dirinya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, seorang Ibu adalah kasih, misteri, pemberian diri, dan abadi – seperti puisi. Mari rayakan cinta Ibu sambil menikmati 7 puisi bertema “Ibu” berikut ini.
Salam
Grace Christine

Grace Christine
SAJIAN YANG IBU HIDANGKAN
Wajah sungguh-sungguh itu
tidak pudar, tidak abu. Kerinduan
membuat bayang makin kian:
bayang tiap pagi di tepi hari
di ruang kecil dapur tempat hatinya sembunyi
Ibu selalu memastikan kehidupan
tersaji dan kesendiriannya sendiri
sempurna buni,
anak-anak berangkat memahat martabat
dan cinta ibu dari jauh terpanjat
lantunan doa-doa; berkat-berkat;
cinta begitu lekat.
dari jauh, rindu ibu
terhidang di ruang benak padat rindu
Bandung, 2019


Grace Christine
TUBUH IBU
Ibu, di dadamu
butir duka menjadi alir
yang tak pernah nadir
di bibirmu
linu perih menjadi senyum
terkembang bak mawar harum
di rahimmu
tangan mungilku dibentuk,
duniaku menjadi
di jantungmu
seribu doa berdegup
meredam semua kutuk
di pundakmu
kaupanggul beban-beban pilu
mengibaskan debu waktu
di kakimu jejak-jejak jerih
tak lagi terasa perih, selalu ada air mata yang usai
dan senyum buah hati yang membuat
luka-lukamu berganti gurih
Bandung, 2019

Grace Christine
TANGAN IBU
tangan Ibu keriput, penuh kerut,
dan kadang diletakkannya perlahan
di kedua lututnya di malam-malam ia bertelut
Sepanjang hidup
sepanjang kerja keras mengurus rumah, anak, perut,
Ibu adalah lengan yang membelai dan merawatku dengan lembut,
Ibu adalah lengan yang pegal bekerja dan berpeluh,
dan beliau terhibur ketika diurut
Tangan Ibu adalah malaikat
yang pagi-pagi menyiapkan nasi,
dan menyiapkan jam-jam dengan hati.
Tangan ibu selalu panjang
mencapai segala radang
mengobati radang-radang itu dengan kasih sayang.
Bandung, 2021

Grace Christine
KAKI IBU
sepanjang kehidupan dan liburan singkat
kaki ibu membuat jejak-jejak yang rapat :
jejak cinta yang tidak
kehilangan tempat.
Bandung, 2021

Grace Christine
PUNDAK IBU
Ibu selalu membawa waktu di bahu. Ke mana entah
kaki menuju, tak dihiraukannya
bahu yang lesu. bahkan hatinya pun
– yang kupikir pasti lesu oleh beban-beban masa lalu – dibawa
di bahu, digeletakkan kadang di sebuah bangku,
ditinggalkan sejenak di situ.
Tetapi Ibu tak keberatan
tinggal di masa kini, soal lelah dan lesu
Ibu tidak mengaku. Ibu hanya mengaku luar biasa senang
memiliki anak seperti aku, memiliki titipan yang Tuhan tutupkan
di atas luka-luka dan kekecewaan,
sehingga kegagalan bukanlah beban
dan kehidupan selalu berjalan ke depan.
Ibu selalu membawa aku
di bahu. Dari butiran debu yang menyelinap
pada lembaran buku puisi yang kubaca tiap pagi,
hingga segala lagu yang membuat rasaku genap, ibu tahu.
Ibu selalu membawa semua itu: aku dan lapisan-lapisan waktu
yang tidak terkikis oleh ragu.
Pada bahunya yang semakin hari semakin lelah,
ada cinta yang tidak menjadi lemah
ditambahkannya di bahu itu doa-doa untuk membungkus aku
Ibu membawa waktu dan aku
di doa-doa itu setiap hari, sejauh aku dan waktu
bergulir merantau dan menuju.
Bandung, 2021

Grace Christine
WAJAH IBU
meski kelelahan
kerap berbutir di pipimu, riak waktu
kaulampaui tanpa ragu
meski keriput mengerut
di kehidupanmu, meski kulit dan tulang
mengerucut menuju satu sudut
di wajahmu keping harapan
rapi bersusun. Kelepak kupu terbang
dari kepompong letihmu yang rumpun
engkau raut wajah
yang menjelma subur tanah
benih-benih duniaku tumbuh di sana
sedang pilu, rontok disapu angin
kauembus lembut dari bibir yang berdoa
menenun ikhlas yang makin
butir keharuan menjadi
rutin alir dari matamu, bersama kasih sayang
yang atom-atomnya berhamburan
Bandung, 2019

TENTANG PENULIS: Grace Christine, kelahiran tahun 1979, berdomisili di Bandung. Beberapa puisinya pernah termuat dalam antologi-antologi bersama, dan beberapa cerpennya sempat termuat di media
massa.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


