Puisi Minggu: 8 Puisi Ilham Wahyudi Tentang Pencarian Diri

Puisi Ilham Wahyudi
Laut

Biru serupa kostum klub sepak bola legendaris kota London itu, apa benar selendangmu? Atau itu semata belas kasihan matahari belaka?

Hijau bagai permadani surga yang membentang lapang, jangan-jangan hanya pantulan klorofil warisan merah ayah dan biru ibumu. Sehingga engkau bebas meluncur ke permukaan.

Kuning serona lulur putri keraton yang kau pajang, mungkin saja keladak juluran rawa yang ingin lepas bebas ke alam raya. Setelah lelah ia berputar-bergerak mencari celah ke arah surya.
Hijau tua seakan-akan seragam tentara itu, bukan main jahat pada biota yang berenang-renang dalam darahmu. Namun apa daya bila kami terlampau lalai menjaga dan teramat suka mengitung laba.

Kuning kecokelatan umpama kulit kentang Amerika yang acap kali membekas di bibirmu itu, kadang kala senang cuma menyaru keringatmu yang sebenarnya bening kaca.

Ungu seperti jubah manggis itu sungguhkah air matamu yang tumpah pasal rakus-tamaknya tangan jemaah pantai? Yakin, itu bukan lantaran semburan sinar-sinar makhluk kecil tak kasatmata?

Cokelat kemerahan laksana periode Barok di Italia itu, bisa jadi alarm tubuhmu yang kewalahan melawan gerombolan peracik racun. Sampai-sampai budi daya gagal panen berulang tahun.

Akan tetapi tolonglah puisi ini. Jauhkan ia dari duga-sangka perihal corak-ragammu yang selalu keliru mata menubuatkannya. Supaya selendang biru, permadani hijau, kuning lulur, hijau tua seragam tentara, kuning kecokelatan kulit kentang Amerika, jubah manggis ungu dan cokelat kemerahan periode Barok Italia itu, senang percuma kami memanggilnya laut.

Akasia 11CT

Pixabay @dimitrisvetsikas1969

Puisi Ilham Wahyudi
Siklus Hari

Terang di luar sana tidak pernah memohon supaya kau segera bangun. Begitu pula gelap di dalam sini, bukan alang kepalang pemalu bila memaksa kau lekas tidur. Kau boleh saja merajalela tukar-menukarnya; sewenang-wenang merancangnya. Akan tetapi, (ingatlah) ayam tidak berteriak di malam hari, dan jangkrik sungguh kecut hati berlaku onar di pagi hari.

Akasia 11CT

Pixabay @fietzfotos

Puisi Ilham Wahyudi
Tirai

Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.

Akasia 11CT

Gambar: Ilham Wahyudi

Puisi Ilham Wahyudi
Kamar

ada yang selalu disembunyikan kamar dari ain kita
kendatipun segenap inti telah kita serakkan ke ruang tamu
ada yang melulu kita cari di dalam kamar
meskipun seluruh isi telah kita campakkan ke luar rumah
begitupun (berulang pula) terdorong terus kita mencari
dan terus mencari sesuatu yang terang belaka kosong adanya.

Akasia 11CT

Pixabay @Lisaphotos195

Puisi Ilham Wahyudi
Bhuta Kala

Bayangkan sekiranya kau hanya tidur-tiduran, malas belaka. Bagaimana mungkin kami sampai ke tempat ini dengan selamat. Keikhlasanmu menanggung buruk sangka telah pula menerangkan apa yang acap samar kami mafhumkan. Lihatlah, betapa terampil dan teguh kau dalam Dasa Purana, Maha Barata, juga Ramayana. Sungguh tak terkirakan betapa tidak menariknya mayapada tanpa bahak tawa dan pelotot mata bengismu. Tapi benarkah hanya dengan tuak, berem, air kelapa, atau nasi warna-warni kau mudah percuma pergi tunggang langgang? Mengapa tidak suargaloka saja yang kau minta, atau nirwana yang terang cahaya, mungkin? Ah, masih juga keliru duga kami ternyata.

Akasia 11CT

Sumber: https://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2011/12/bhutakala-bhuta-kala.html?m=1

Puisi Ilham Wahyudi
Kemuning

Hei, Murraya, salam takzim dari kekasihku atas kebaikan yang kau ajarkan. Wangi gerangan laku kami setiap kali harum tubuhmu tertangkap indra. Padahal jarak selalu menyembunyikan kau dari tempuh kami. Kadang sering juga kau muncul di halaman rumah; buru-buru orang tua kami mengusirmu jauh-jauh. Betapa sangsi kami pada ketidaksetujuan mereka, sedangkan bagi kami kau begitu mudah untuk dicintai. Tapi tiada daya kami lagi membantah tatkala tawa manja nona berpakaian putih acap terdengar telinga; mati-matian kami tunggang langgang. Namun bila kelak hajat kami makbul, Paniculata, sudikah kau menjadi lulur kekasihku? Sungguh tiada wangi yang ingin ia sematkan selain bau kelopakmu yang suci putih itu.

Akasia 11CT

Pixabay @DerWeg

Puisi Ilham Wahyudi
Seekor Kucing Kampung yang Kami Temukan Pukul Dua Dini Hari di Sebuah Jalan Sunyi di Pusat Ibu Kota yang Sepertinya Kedinginan; Mungkin Juga Sangat Kelaparan

Apa kita bawa pulang saja kucing Ini?
Ih, kasihan…bulu-bulunya rontok.
Karena hidupnya penuh telantar di jalan?

Kau percaya tidak, memutuskan hidup di luar pasti bukan rencananya.
Apa kamu pikir pemiliknya sengaja?
Tentu saja tidak, Sayang. O, ya, kamu masih ingin memelihara kucing kan?

(2024)

Gambar: Ilham Wahyudi

Puisi Ilham Wahyudi
Selepas Musim Dingin

“Kau dengarkah jeritku membentur musim dingin tembok Berlin? Atau rinduku yang nempel pada dinding Gereja Memorial Kaisar Wilhelm yang buntung ujung menaranya?”
Jalan-jalan mulai sepi dari suara mesin-mesin rongsok, tapi bau parfummu masih melekat dan menggoda ingatanku.
Turis, juga warga lokal asyik masyuk menyembunyikan kenangan pada ponsel-ponsel yang semakin hari semakin mirip sabun batang. Pahamkah mereka kenangan?

“Kau rasakah hembus nafasku melayang-layang di permukaan air sungai Spree; meraba tubuhmu yang mandi bunga-bunga musim gugur?”
Kita umpama muda-mudi yang mengintip kebahagian di balik tembok tebal sekepalan tinju orang dewasa; membayang-bayangkan sambil merancang-rancang masa depan yang bercahaya bagai meteor di luas jagad raya. Tapi, tahukah kita kebahagiaan?
Berlin! Di kota itu dulu kita pintal angan-angan: berharap kelak menjadi mafela yang hangat saat musim dingin tiba. Namun sekumpulan penghianat memporak-parik kan kota kita. Sehingga tembok yang seharusnya telah roboh, semakin kokoh berdiri.
Di depan gereja tua itu, kulayangkan doa: semoga kau sambut sukacita.

(2024)

Pixabay @Wolfgang- 1958

TENTANG PENULIS: ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

SEGERA TERBIT: Edisi 18/I/5 Mei 2024

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==