Mengunjungi berbagai tempat di Nusantara tentunya memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri. Keunikan dan keaneragaman itu yang membedakan suatu daerah dengan daerah lainnya. Kunjungan yang dilakukan oleh penyair tentu berbeda dengan kunjungan yang dilakukan oleh orang lain. Ada sisi-sisi menarik yang dapat diungkapkan dalam bentuk puisi dengan sedapat mungkin menghindari layaknya sebuah reportase berita. Berikut ini beberapa puisi yang merepresentasikan kunjungan ke berbagai daerah.
Bambang Widiatmoko

Bambang Widiatmoko
TRUNYAN
Di dermaga desa Trunyan
Angin mempersingkat ruang – menanti kedatangan
Semesta menunjukkan kemisteriannya
Di bawah pohon Taru Menyan
Kematian adalah akhir kehidupan
Jasad yang terurai di bawah ancak saji
Adalah catatan tentang segala kisah purba.
Deretan tengkorak dengan cengkungan mata yang dalam
Seperti lorong panjang yang menembus hutan
Sejenak aku terdiam – membaui wangi kemenyan
Menatap jasad yang baru dua bulan diletakkan
Bersama barang barang kesayangan dalam kehidupannya
Menunggu kapal untuk kembali pulang
Terasa alangkah sunyi dan asingnya tanah ini.
2025

Bambang Widiatmoko
SUMUR YANG BERKISAH
Bagi: Rusman
Di sebuah rumah yang tak pernah sepi dikunjungi
Rusman menyambutku dengan pelukan hangat
“Silakan duduk untuk menyambung silaturahmi dan berkisah,” sambutnya.
Aku duduk di dekat sajadah yang belum sempat dilipat
Dengan seuntai tasbih yang selalu menemaninya untuk berdzikir.
Rusman mengajakku ke belakang rumah
Sebuah sumur tua yang di bibirnya tersaji kembang setaman
Dan di sampingnya terdapat payung berwarna kuning keemasan
Lalu dinyalakan sebatang dupa yang menyebarkan harum bunga
Aku memberi salam kepada penunggu sumur yang gaib tak kasat mata.
Terasa embusan angin sejuk menyentuh tubuhku
Dan kurasakan senyuman Sri Tanjung membayang dalam bayangan
air sumur yang membuat jiwaku bergetar.
“Berikanlah kesetiaanmu untuk menjaga sejatinya cinta dan kehormatan
untuk diteladani perempuan di seluruh tanah Blambangan,” ucapku lirih.
Tak terdengar jawaban sebab tanah Blambangan telah memancarkan bau wangi
Dan seolah kulihat Raden Sidapaksa dengan tubuh yang lunglai
didera perasaan bersalah menatapku dengan penuh kecemburuan.
Setiap kali aku ke Banyuwangi tentu tak lupa kutemui Sri Tanjung
Di sebuah sumur tua – meski hanya meneguk air yang bercampur air matanya.
2024

Bambang Widiatmoko
PETILASAN BUYUT CILI
: bagi Purnomo
Usai menembangkan kisah Yusuf dengan kitab di tangannya
Aku diajaknya untuk berziarah di Petilasan Buyut Cili
Sebuah petilasan keramat di gubuk beratap ilalang
Membungkuk hormat kepada leluhur yang menitipkan tanah
dan marwahnya agar selalu tetap dijaga.
Sambil membakar dupa di sebuah batu yang tak seberapa besar
Aku merasakan aura yang luar biasa mengusap dada
Membayangkan desa Kemiren yang dahulu dipenuhi pohon kemiri dan duren
Mengisahkan tentang sejarah Blambangan yang tak akan habis dikupas
Di petilasan buyut Cili – aku membaca kisah peradaban dan berdoa.
2024

Bambang Widiatmoko
GANDRUNG
Bahkan angin dan ombak pun merasa tergila-gila
Ketika menyaksikan seribu penari gandrung
Mengubah pesisir pantai ini menjadi ribuan burung
yang terbang memenuhi cakrawala
Dan selendang merah yang engkau kibaskan telah memakuku
Untuk tak beranjak dari cemara laut yang menaungiku.
Kain bermotif gajah oling terasa bagai sebuah peta
Membentangan sejarah panjang Tirta Arum menjadi Banyuwangi
Di pantai ini kita dapat mengulang kembali tentang perjuangan
Dan kisah penghormatan terhadap leluhur serta Dewi Sri
Ribuan jejak telapak kaki berkaos putih seperti prajurit puteri Blambangan
Yang siap membidikkan panah asmara. Dan aku salah satu korbannya.
2024

Bambang Widiatmoko
KERETAAPI KECILKU
Sepi menyambut kedatanganku di stasiun Banyuwangi
Hujan baru saja berhenti – menggilapkan deretan rel besi
Lalu diam-diam engkau memanggilku untuk masuk peron kembali
Membawakan kue ulang tahun dan aku menyalakan lilinnya
Dan lantas kutiup hingga mati – asapnya seperti asap loko
Yang membawa tubuh keretaapi kecilku meninggalkan stasiun.
“Selamat ulang tahun,” kalimat pendek yang tulus diucapkan
Sambil berjabat tangan dan berfoto bersama di pintu kedatangan
Setelah hampir melupakan tanggal dan tahun kelahiran
Di peron stasiun Banyuwangi – sebuah jam tua sebagai penanda waktu
Mengingatkan pergantian tahun – usia yang terus bertambah bilangannya
Tapi semakin dekat menuju rumah keabadian: kembali ke asal mula.
2025

Bambang Widiatmoko
SALAM
“Dapat salam dari Mak dan keluarga di Penyengat,”
Katanya dengan senyuman yang tertahan
Lalu ingatanku menuju sebuah rumah di ujung dermaga
Di depannya dipasang jaring untuk menahan sampah.
Terbentuk layaknya sebuah kolam berair lautan
Dan aku suka duduk di teras berlama-lama
Sebab yang diperbincangkan di dalam rumah
Adalah tentang manuskrip yang tak ternilai harganya.
Di resto Sei Enam – sepiring gonggong tinggal cangkangnya
Lalu aku beranjak meninggalkan meja
Sambil melihat pelayan membereskan peralatan
Dia tersenyum: “Tak ada pesta yang tak berakhir”.
2024

Bambang Widiatmoko
MERCUSUAR
Di kompleks makam Raja Ali Haji
Cahaya keemasan terpantul dari empat sisi dindingnya
Aku bersimpuh memberi hormat
Dan terasa aura kepahlawananmu seperti embusan sejuk
Membentur kesejatian dan kesendirianku.
Pulau Penyengat tampak terlalu kecil untuk dikelilingi
Namun Gurindam 12 telah melebarkan jelajahnya
Hingga dikenal di seluruh nusantara dan engkau menuliskannya
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa.
Terasa betah duduk berlama-lama di sini
Membaca nasihat yang ditulis di dinding-dindingnya
Sebab kekuatan kata-kata dapat menjadi pengganti senjata
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Di kompleks makam Raja Ali Haji
Sepi telah menautkan hati dan kecintaaan terhadap negeri
Dan daun-daun kering yang berguguran
Menjadi penanda perjalanan waktu dan pergantian zaman
Namun Gurindam 12 menjadi mercusuar di tengah lautan kehidupan.
2024



TENTANG PENYAIR: Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Mubeng Beteng (2020), Kirab (2021), Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya
terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Identitas, Kemanusiaan, Kampung Halaman (2023), Puisi
di Tanah Cahaya (2023), Rendezvous (2023), Candi di Tepi Kolam (2023), Jauhari (2024, Ijen Purba
(2024). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Barat.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya..


