Beruntung, Rahmat berkenan diwawancarai oleh saya saat dirinya sedang santai di Rendez-Vous Cafe, Rumah Dunia. Pria yang memakai kaos oblong putih ini sangat senang sekali saat dimintai pendapat terkait apresiasi Pemkot Serang terhadap penulis.

Menurutnya, Pemkot Serang di ulang tahun yang ke-15 harus sudah bisa memberikan apresiasi kepada penulis dan kemudian membuat website yang ada di instansi—yang berguna untuk mencurahkan pendapat baik oleh warga kota Serang maupun yang dari luar. Tentu saja, harus dibarengi dengan honor yang setimpal untuk yang tulisannya dimuat.

“Mudah-mudahan dengan harapan 15 tahun ulah tahun Kota Serang ini bisa menjadi rujukan kota lain. Minimal instansi yang ada website memberikan honorarium kepada para penulis. Syukur-syukur ada yang menerbitkan buku dari pemkot atau dinas-dinas perpustakaan atau sinar yang lain support gerakan-gerakan kepenulisan,” katanya. “Kabarnya esai, cerpen atau resensi buku di golagongkreatif.com dibayar Rp. 100 ribu, ya?” ia bertanya. “Kalau iya, itu lumayan,” lanjutnya.

Penulis buku Guruku Sayang Dibuang Jangan ini menilai bahwa peradaban umat manusia akan terus maju. Kemajuan suatu peradaban tentu saja karena adanya dunia kepenulisan. Baginya, dunia penulisan kita belum lulus, tetapi langsung melompat ke dunia digital.

“Ujung-ujungnya apa? Karena belum lulus dunia kepenulisan (transfer ilmu) akhirnya melahirkan prank, bullying, bahkan hanya untuk mencari subscriber kita harus meregang nyawa dengan cara menghentikan mobil truk di tengah jalan. Artinya mereka ingin tenar, ingin mendapatkan uang tetapi berhadapan dengan norma, etika, bahkan hukum,” ujarnya.

Saya menanyakan seandainya dunia kepenulisan diapresiasi oleh pemerintah kota, apakah dampaknya tidak akan ada lagi orang-orang yang membuat heboh karena pembodohan seperti contohnya menghentikan mobil di tengah jalan?

Rahmat yang juga Duta Baca Banten ini mengatakan, bahwa apresiasi itu sangat perlu dilakukan. Dengan apresiasi itu juga harus menularkan ilmu pengetahuan, bagaimana menjadi konten kreator yang baik, bermanfaat—itu bisa dilakukan baik dengan cara membuat tutorial atau memperkenalkan budaya yang ada di Banten.

Keinginan Rahmat yang diapresiasi bukan sekadar dunia kepenulisan saja melainkan konten kreator juga. Mengingat dunia digital sudah menguasai sektor kehidupan manusia—bahkan menurutnya, hari ini manusia lebih banyak menghabiskan waktunya di konten digital, untuk itulah perlu adanya apresiasi yang baik.

Selain itu, dunia digital sudah banyak dirasuki oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya, di daerah Serang kota siswa-siswinya lebih gemar tawuran karena terpengaruh dari dunia digital. Untuk itulah Rahmat menyampaikan, agar Pemkot Serang selektif mengapresiasi konten kreator. “Jangan sembarang. Tapi konten kreator yang membawa kebermanfaatan,” tegasnya.

“Maka motivasi, ilmu pengetahuan harus lebih diapresiasi dikedepankan ketimbang generasi kita yang melompat ke literasi digital, yang lebih ke hal-hal yang buruk,” katanya.

Rahmat juga mengkritisi website milik Pemkot Serang yang isinya hanya laporan kegiatan, tetapi tidak ada unsur ilmu pengetahuan yang memang sudah dikhususkan seperti Dinas Pendidikan membahas yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan dan kesehatan juga demikian.

“Saya pikir di dalam satu instansi itu ada yang namanya staff ahli. Kalau di dinas pendidikan lingkupnya pendidikan. Kalau kebudayaan, ya kebudayaan. Kemudian kesehatan, ya kesehatan. Tidak melulu informasi tapi juga menerima sumbang saran di kota itu. Orang bisa menulis artikel atau esai. Saya melihat website masih sebatas pada kegiatan. Artinya mereka tidak menerima feedback dari masyarakat. Kalau ada ongkos menulisnya pasti semangat,” katanya.

Pengalaman menyedihkan terkait apresiasi yang diberikan oleh pemerintah kabupaten dan kota disampaikan oleh Rahmat. Dirinya pernah diberikan apresiasi hanya dengan secarik kertas. Bahkan Gol A Gong saja pernah diberi penghargaan oleh Kabupaten Serang sebelum ada Pemkot Serang dengan uang pembinaan Rp. 250.000,- Padahal, jika tidak mampu memberi uang yang layak setidaknya diapresiasi dengan hal yang menunjang kebutuhan menulis misalnya notebook atau lebih baiknya diberikan laptop.

Rahmat berharap di hari ulang tahun ke-15 Kota Serang ada prospek pembangunan dari sebuah wilayah, “Adakanlah kegiatan-kegiatan yang sifatnya perhargaan yang membuat penulis semangat menulis dengan harapan mudah-mudahan di tahun berikutnya mendapatkan penghargaan. Tentu yang dimaksud dengan penghargaan tidak sebatas secarik kertas itu yang sesuai. Ada kabupaten sebelah cuma dapat sertifikat. Kalau masih seperti itu pemikirannya jangan harap kota bisa yang terdepan,” pungkasnya.


