Pada menit ke dua puluh lima sejak kereta bergerak, aku menutup novel Keigo Higashino. Kulayangkan pandangan ke luar jendela kaca. Semak berlarian berlawanan arah denganku. Langit sore muram, menutup senja yang dingin.

Aku masih merenungkan alur novel Keigo Higashino yang satu ini. Kutempelkan kepala ke kaca jendela, baru sadar pipiku mendingin karena hujan deras menampar dari luar. Semak dan semua yang ada di luar yang semula tampak jelas, kini buram ditimpa tetes hujan yang terus turun memenuhi kaca.
Seburam inikah akhir kisah Ishigami, tokoh utama dan pelaku pembunuhan dalam novel ini? Bukankah ia melakukannya untuk melindungi perempuan yang dicintainya?

Seharusnya hidup Ishigami bisa tenang dengan menjalani takdir putusan hukuman yang akan diniatkan dijalaninya dengan memecahkan sebuah soal matematika legendaris.


