Seharusnya hidup perempuan yang dicintai Ishigami dapat melanjutkan hidup dengan putri tunggalnya, setelah ada seorang laki-laki yang bersedia menerima mereka sepenuh hati.
Seharusnya begitu biar jalan cerita melegakan pembaca, terutama pembaca sejenis aku yang sering membawa perasaan. Namun, bukan Higashino jika tidak mengobrak-abrik alur dan menyodorkan kejutan.

Seharusnya Ishigami mulus menjalani hari-hari dalam selnya berteman matematika, jika perempuan itu tidak datang menemui dan membongkar penyamarannya sendiri. Perempuan itu mungkin terpaksa datang karena tak tahan dirongrong kejujuran putri tunggalnya hingga mencoba bunuh diri.
Ruwet? Iya. Untuk itulah aku memerlukan kesetiaan membacanya.


