Cuitannya berupa info kesehatan yang dinarasikan dengan baik. Aku agak heran juga, seorang ners (gelar profesi perawat) dapat menuliskan info kesehatan dengan baik dan mudah diikuti orang awam sepertiku.
Tweet beruntunnya mengenai informasi kesehatan seringkali membuatku tersudut, aku sudah banyak zalim sama tubuhku sendiri. Betapa tulisannya mengeplak diriku, sekaligus memotivasi untuk kembali hidup sehat.

Ada 44 bab dalam buku ini yang mudah dipahami, padahal isinya sarat istilah medis. Banyak yang bertentangan dengan kebiasaan dan mitos, tapi logis menurut kesehatan. Misalnya saat mimisan, siapa masih suka mendongakkan hidung, berharap darah berhenti? Apalagi memasukkan tisu ke lubang hidung? Atau malah gulungan daun sirih, sepertiku?
Padahal tindakan yang seharusnya adalah duduk tegak, condongkan tubuh ke depan, kepala agak menunduk mengikuti batang tubuh. Lalu tekan cuping hidung selama 10 menit. Cuping hidung itu bagian hidung yang lunak, sedikit di atas ujung hidung. Tujuannya agar pembuluh darah tertekan dan terhambat sehingga pembekuan darah lebih cepat.

Buka mulut untuk bernapas. Kompres dingin pangkal mata (bagian dekat mata). Jika pakai batu es, diselimuti kain atau tisu dulu. Kompres pangkal mata dan pencet cuping hidung secara bersamaan selama 10 menit.
Hentikan keduanya, lalu perhatikan apakah pendarahan telah berhenti. Kalau belum, ulangi siklus itu setiap 10menit, jangan beruntun apalagi lebih dari 20 menit.
Jika pertolongan pertama ini tidak menghentikan darah dari hidung, segera berobat! Harap diperhatikan ini adalah P3M alias pertolongan pertama pada mimisan.

Berbeda dengan mimisan terjadi saat kecelakaan atau cedera kepala, atau ada gangguan pernapasan, mimisan pada batita dan lansia, pada orang dengan gangguan hemofilia, mimisan dengan gejala infeksi lain, atau pada orang yang punya riwayat kelainan pembekuan darah.
Hmm.. Ini bukan kata saya, ya. Ini saya cuplik dari buku ini di halaman 260. Halaman lainnya insyaallah sangat bermanfaat bagi kita menambah pengetahuan kesehatan.
Jangan khawatir mengenai isi buku keluaran Penerbit Bentang ini, karena diawasi penyuntingannya oleh seorang dokter. (*)


