Resensi Film: Setiap Anak Unik: Renungan Bagi Para Pendidik

Hingga suatu hari muncul seorang guru lukis yang menemukan kejanggalan anak tersebut dan meneliti masalahnya dengan menemui langsung kedua orangtuanya—mencari tahu bagaimana pola asuh orangtua tersebut dalam memperlakukan anaknya. Ternyata anak tersebut salah pola asuh dan mengalami Dysleksia yakni kesulitan menghafal atau mengingat huruf sehingga di buku catatan sekolahnya “b” ditulis “d”, “top” tertulis “pot”, dan banyak lagi, semua serba terbalik-balik hilang konsentrasi dan orientasi.

Guru lukis itu akhirnya berhasil menyalakan kembali semangat anak tersebut yang hampir padam setelah menceritakan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia yang awalnya mengalami kesulitan membaca dan menulis seperti Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alva Edison dan Abhishek Bachchan. Berkat bantuan guru tersebut—yang begitu telaten mengajari sianak baca-tulis dengan pendekatan sesuai minat sianak yakni melalui media lukis—bukan saja anak tersebut mampu membaca dan menulis, juga berhasil menggemparkan sekolah berkat prestasi lukisannya yang menjadi nominasi pertama mengalahkan guru yang mengajarinya.

Apa yang saya ceritakan di atas merupakan ringkasan film Tare Zameen Par atau Every Child is Special persembahan PVR Pictures hasil produksi Aamir Khan. Tokoh guru tersebut diperankan oleh Aamir Khan sebagai Ram Shankar Nikumbh yang berasal dari sekolah Tulip—sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus—dan tokoh sianak diperankan dengan baik oleh Darsheel Safary sebagai Ishaan.

Pendidikan Kekeliruan
Film tersebut merupakan gambaran umum sistem pendidikan yang keliru dalam memperlakukan anak didik, baik itu di sekolah maupun di rumah. Para guru dan orangtua saya anjurkan menonton film tersebut. Sebagai media bercermin sekaligus bahan renungan sampai sejauhmana kita memahami minat dan bakat yang dimiliki anak-anak kita. Saya sepakat dengan pernyataan Yohanes Surya (pakar matematika Indonesia) bahwa setiap anak sejatinya tidak ada yang terlahir bebal selama menemukan guru yang bijak dan pola pengajaran yang tepat. Ada perkataan bijak tentang cara mendidik dari William Butler tokoh pendidik Amerika yang menyatakan bahwa pendidikan bukanlah menjejali keranjang kosong melainkan mengobarkan percik api. Dengan kata lain pendidikan bukan melulu mengurusi sebatas leher ke atas—kognitif—melainkan mengoptimalkan segenap potensi jiwa raga peserta didik.

Bercermin dari film tersebut, saya membayangkan betapa banyak anak Indonesia yang menjadi korban sistem pendidikan yang selama ini kita lestarikan. Berapa banyak anak didik yang mesti terkubur potensinya lantaran sistem sekolah yang memberlakukan aturan satu untuk semua yang hanya berorientasi mengeruk keuntungan finansial bukan tumbuh kembang anak dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari sebagian besar Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT) di Indonesia tidak pernah serius meladeni minat dan bakat anak didiknya. Sehingga wajar jika kita kerap mendengar keluhan para sarjana yang mengaku kebingungan dan tak bisa melakukan apa-apa setelah rampung kuliah selain menambah meruyaknya pengangguran “terhormat”.

Secara ekstrim Bob Sadino (wirausahawan nyentrik) menyindir hal di atas dengan menggoblog-goblogkan sistem pendidikan di Indonesia yang menurutnya hanya mengantarkan anak didik sebatas pengetahuan teori tidak pernah sampai menyentuh ranah praktek. Menurutnya yang lumayan (baru lumayan) bagus pendidikan di Indonesia hanyalah AKBID (akademi kebidanan) dan AKPER (akademi keperawatan) yang memberlakukan secara seimbang antara teori dan praktek. Sehingga setelah lulus anak didiknya memiliki bekal yang siap pakai, atau setidaknya memiliki bekal kecakapan praktis.

Solusi dan Harapan
Di antara menjamurnya industri pendidikan yang tumbuh subur di kota hingga pelosok desa, saya memimpikan setidaknya ada satu atau dua sekolah yang berinisiatif mau mengadopsi sistem pendidikan yang pernah diterapkan A.S Niell di sekolahnya Summerhill School yang memberi ruang kebebasan penuh bagi tumbuh kembang potensi sesuai minat dan bakat anak. Dimana kurikulum dan aturan diserahkan kepada kemauan anak. Guru atau staf pengajar hanya bertugas sebagai fasilitator yang berfokus meladeni hasrat anak. Sekolah mewujud laboratorium pembelajaran yang lengkap, sehingga setiap anak bebas memilih dan menentukan minat mempelajari atau menguasai bidang apa pun sesuai keinginannya. Para pendidik mesti mafhum bahwa setiap anak terlahir berbeda atau unik (every child is special) sehingga tidak cukup pemberlakukan sistem aturan satu untuk semua. Wallahu alam. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==