Oleh: Zaeni Boli
Saat negara sedang lucu-lucunya, itulah waktu yang ideal bagi penulis dan seniman untuk berkarya. Karya seni sebagai media komunikasi harus menjadi jembatan bagi suara-suara kritis rakyat yang, dengan cara terbatas, mungkin tidak akan sampai ke pihak yang dituju. Walaupun risikonya tinggi, syukur-syukur malah ditawari jadi duta, seperti band Sukatani yang sempat ditawari menjadi duta polisi—oh ya, pasti ditolak dengan santuy.
Ada nggak sih yang nyangka kalau band punk Sukatani bakal viral dan mendapat dukungan internasional? Ini semua berkat oknum-oknum polisi yang hobi banget sama yang namanya pungli. Maka, terciptalah karya yang viral itu.

Belum lagi di Kalimantan, ada seorang pelukis yang melukis burung Garuda. Dalam lukisan itu, burung Garuda seolah-olah hanyalah sebuah baju yang dipakai oleh tikus. Sebuah gambar yang satire banget dan bisa diinterpretasikan sebagai gambaran kondisi negeri ini hari ini. Miris, pasti. Melihat banyaknya fenomena tidak terpuji yang dilakukan oleh oknum pemerintah yang akhirnya hanya membuat rakyat kecewa.
Sudah sejak zaman dahulu, rezim selalu takut pada kata-kata, takut pada kesenian. Padahal, bangsa yang besar pasti menghargai jasa para senimannya—mereka yang telah mengharumkan nama bangsa ke dunia internasional. Tapi ya gitu…
Belum lagi, baru-baru ini kita dikejutkan lagi oleh satu berita viral tentang bagaimana oknum pemerintah di Pertamina dengan berani merugikan banyak orang dengan mengoplos Pertalite atau menjual Pertalite dengan harga Pertamax. Oh, betapa lucunya negeri ini.
Semoga oknum itu belum kabur ke Antartika, biar nggak susah ngejarnya.
Semoga tak ada lagi yang dengan bodohnya memagari laut.



