Mengingat kami masih banyak urusan yang mesti di selesaikan di rumah; ada yang jadi dosen seperti saya, mengajar di sekolah, ASN, dan Gol Gong yang harus melakukan Safari Literasi ke kota lain. Juga terkait dengan jarak kepulangan yang akan memakan waktu cukup lama. Kami akan menempuh perjalanan pulang sekitar 1.250 KM dari Padang Panjang menuju Banten lewat jalur darat ke Bukittinggi, Payakumbuh, Pekanbaru, Jambi, Palembang, dan Bakaheuni Lampung.

“Sekitar 4 hari 3 malam,” kata asisten Duta Baca Indonesia Rudi Rustiadi, yang bertugas mendokumentasikan Safari Literasi Sumatera di akun YouTube GolAGong TV.
Kami memilih tidak melakukan perjalanan pulang pada malam hari demi keselamatan bersama. Mengingat mobil yang kami gunakan adalah mobil dinas Duta Baca Indonesia (DBI). “Kalau dipaksakan jalan malam hari itu berat, lampu depan mobil tidak terang benderang. Saya tidak sanggup kalau mesti jalan malam,” kata Rahmat Heldy HS selaku driver selama tur Literasi Sumatra.

Di samping itu juga Duta Baca Indonesia Gol A Gong sejak awal tidak mengizinkan jalan malam hari. “Soere hari kita harus cari tempat penginapan. Jangan sampai kemalaman di jalan, seperti saat kita menuju Lubuklinggau,” ujar Gong.

Memang saat kami berangkat dari Palembang menuju Lubuklinggau, kami sempat terjebak di jalanan pada malam hari, melewati hutan-hutan dengan pohonan besar di kanan-kiri. Mobil yang melintas hanya satu-dua. Selebihnya tak ada. Sepi. Sepanjang jalan diselimuti kegelapan. Tak ada lampu jalan, tak ada rumah-rumah warga. Gong meminta Rahel, sapaan akrab Rahmat Heldy, untuk berkonvoi dengan mobil yang ada di depan. “Usahakan jangan terpisah dari mobil itu. Tapi, tetap jaga jarak,” pinta Gong. Mobil di depan melaju kencang di jalanan yang membelah hutan. Mungkin kecepatannya sekitar 80-100 KM/jam karena jalan lengang.

Selang beberapa jam, mobil di depan menepi. Jadilah mobil kami sendirian di tengah jalan yang lengang dan gelap. Gong meminta Rahel untuk melaju pelan-pelan. Syukurlah setelah beberapa ratus meter kami memasuki Kota. Jalanan kembali ramai.
Kemabli ke cerita awal, driver pagi ini masih dipegang Rahel. Kami sebentar berhenti di Bukittinggi. Mengabadikan momen dengan latar Jam Gadang. Sebentar saja, Rahel kembali menghidupkan mesin mobil. Agak jauh dari Jam Gadang kami sarapan bubur ayam di pinggir jalan. Beres sarapan pagi, mobil kembali melaju.

Tak terasa jam menunjukkan Pukul 08.52 WIB. Saat itu kami sudah sampai di Kelok 9, Kecamatan Harau, Payakumbuh, Sumatra Barat. Kami istirahat sebentar, ada yang memesan kopi dan susu cokelat panas. Sedang saya memesan teh tarik panas. Sambil menikmati pemandangan dengan tebing-tebing tinggi menjulang, serta jalan layang yang menghubungkan satu tebing dengan tebing lain. Ini pemandangan baru bagi saya.

“Kita ini seperti sedang berada di tempat negeri-negeri dalam dongeng,” Rahel berkomentar. Dari atas tebing yang ditumbuhi pepohonan, terdengar suara-sura aneh. “Itu suara-suara monyet. Biasanya mereka akan turun di pinggir-pinggir jalan,” kata si ibu penjual kopi.

Kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Sampai puku 12.30 WIB, kami kembali istirhat sebentar, sekalian makan siang di Rumah Makan Umi, di Jalan Lintas Sumbar Riau, Sengolan Kuok. Kami memesan ikan bakar Kopiek. Rasa ikannya gurih dan dagingnya tebal.

Setelah selesai semuanya, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pustaka Batimang. Lokasinya tak jauh dari tempat kami makan tadi. Pustaka Batimang berada di Dusun Salo Baru, Desa Ganting, Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. (*)




