Saya datang ke Wanda Galuh pukul 11:15 WIB. Acara sedang berlangsung, pembukaan. Erlinda – tetangga di Yusuf Martadila Kota Serang, Cherry, Hj Rita di arena panggung. Tiga perempuan itu mengenakan busana serba merah. Juga Roni – teman seperjuangan di Cipta Muda Banten. Backdrop dengan tulisan sederhana : Silaturahmi Alumni SMANSA Angkatan 1982. Itu membuat hati bergetar.

Para undangan duduk lesehan. Saya mencoba mengamati satu persatu. Pujo, Aan, Subkhi, Ade, Cahyo, Leli, Uce, Dinar, Inayati, Wiwien, Nana, Ida, Eti, Neng Kubil, Ade, Desi, Anis Salam, Dodik Irianjaya, Fauna, Ipiyanto, Embeng, Neng Ace, Weti, Reni Arifin, Iroh Fatiroh, Enan Nadia, Euis Diah, Maya, dan banyak lagi… Maaf lupa, tidak hafal.

Setelah Subki Syarbini tausyiah, Dinar yang jauh-jauh datang dari Sukabumi testimoni, Fauna yang mengelilingi dunia dengan bersepeda muncul. Semua senang walaupun cara jalan Fauna masih terbungkuk-bungkuk.

“Saya sehat. Ke sini saja nyetir sendiri!” Fauna yang sudah mendatangi 80 negara memastikan. Saya saja baru 20 negara.

Setelah Fauna memberikan testimoni, Hj Rita yang jadi tuan rumah mendatangi Fauna dan memberikan bingkisan. Saya rasa ini sebagai bentuk rasa syukur, karena puteranya berhasil menggondol gelar dokter gigi: drg.Reza Rachman.

Saya pun mendapat giliran berbicara. Saya selalu senang jika diberi kesempatan berbicara di depan teman-teman. Mereka sangat mendukung perjalanan hidup saya sebagai orang yang memiliki kekurangan secara phisik. Itu sebab saya tidak bisa meninggalkan Banten, karena Banten sangat berjasa kepada saya. Udara, air, dan tanahnya membakar tubuh saya hingga mampu mengarunhi hidup yang keras ini.

Di depan mikrofon dan memandangi teman-teman satu persatu, saya terlempar ke masa kecil. Saya mencatat kenangan dalam hati paling dalam. Euis Diah, hal yang tidak pernah saya lupakan. Saat kami masih kelas 2 SDL X1 Serang. Euis memberi saya uang seringgit untuk membeli kroket dan buras. Tangan kiri saya masih utuh. Ibu Euis Kepala SKKPN Serang, yang kemudian diteruskan oleh Ibu saya. Kami sudah seperti saudara. Bagi saya ini peristiwa puitik.

Kemudian Maya Rani Wulan, sobat saya (bersama Oning di Lampung). Sebagian masa remaja saya ada di Maya, begitu juga suaminya – Ririn, teman masa kecil di Yusuf Martadilaga. Saya bisa datang ke rumah Maya hari apa dan jam berapa saja. Ayahnya menerima saya dengan baik karena kami bersahabat tanpa kepentingan apa-apa. Saya senang dengan keluarga Maya karena memiliki cita rasa seni yang tinggi untuk ukuran Kota Serang.
Lalu Chery anak Cilegon. Mungkin Chery lupa. Tapi peristiwa itu sangat puitik, dimana peristiwa itu masuk ke dalam pikiran dan perasaan. Peristiwa yang indah untuk dikenang karena itu masuk ke persoalan seseorang menghargai seseorang yang lain. Saya selalu mengingatnya tanpa diembeli apa-apa.

Saat itu saya baru pulang dari Kejuaraan badminton pelajar se-Jawa Barat di Sukabumi, 1981. Dunia perbulutangkisan heboh karena ada pebulutangkis berlengan satu dari Serang – yang tidak diperhitungkan, mampu mengalahkan pelajar dari Kuningan. Peristiwa yang menghebohkan itu diekspos koran terbesar Jawa Barat – Pikiran Rakyat. Saya kembali ke Serang, masuk terlambat ke sekolah. Di koridor, di depan Kelas IPS, Cherry yang mungil dan centil (seperti Maya dan Oning) muncul, menyapa, dan mengucapkan selamat. Saya mengangguk senang dan penghargaan sederhana ini membekas.
Lilis Sugiharti. Atlet tenis di sekolah. Saya mengingatnya selalu. Saya beberapa kali main tenis (sekadar mencari keringat) bersama Reni di kabupaten. Dulu lapangan tenisnya persis di seberang kantor pos alun-alun kota Serang. Saya sering melihat Liis main tenis – kalau tidak salah – bersama Soni.

Saya selalu mencatat peristiwa-peristiwa penting di sekolah. Sayang, orang-orang yang penting dalam kehidupan saya semasa SMA tidak hadir. Toni Dian, Ganis Supriyadi, Agus Riyanto, Agus Sunardi – rekan double badminton yang putranya si Bintang Emon jadi komikal beken, Herdy Kusmayadi, Efi Saferi, Toto tidak hadir karena ada kesibukan. Tokoh penting yang biasa dipanggil Albert Enstein – Akhmad Gozi juga tidak bisa hadir. Profesor Bambang Juanda – sparring partner badminton saya di PB Blue White juga tidak bisa hadir. Tata si jago pingpong juga ada acara keluarga.

Saya menutup sambutan dengan mengingatkan kepada teman-teman untuk menuliskan kisah hidupnya. Sebagai Duta Baca Indonesia melanjutkan perjuangan Najwa Shihab, saya ingin mengumpulkan kisah hidup mereka yang luar biasa. Kiprah teman-teman saya beragam dan sukses dalam karirnya. Sayang jika dilewatkan. Itu akan jadi koleksi berharga di rak perpustakaan.

Semoga reuni akbar yang ke 40 Desember nanti terlaksana. Reni Arifin jadi Ketua Pelaksananya. Oh, Reni. Sahabatku sejak kecil hingga sekarang. Saya selalu ingat saat masih ngontrak di Kaloran. Setiap berangkat sekolah pasti mampir dulu ke rumah Reni di gedung Juang 45. Kami berangkat sama-sama ke SDL XI. Saat itu kami menyeberang jalan, sendal saya lepas. Saya kembali mengambil tapi sebuah opelet menabrak saya. Kepala saya dijahit.

Setelah makan siang, kami berfoto-foto, dilanjutkan dengan para ibu menyanyi. Ipiyanto nekad menyanyi, kontan burungburung bubar terbang ke sarangnya. Terima kasih, teman-teman. Hari yang indah. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Gol A Gong/Foto-foto Roni Chaeroni


