Surakarta, Sebuah Kota dengan Sentuhan Multikultur

Indahnya Masjid Raya Syeikh Zayeed

Saya bersama Bu Wiwid dan Bu Yuli berangkat dari pinggiran Kabupaten Karanganyar, Balai Besar Guru Penggerak Jawa Tengah menggunakan layanan aplikasi daring. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kami sampai di Masjid Raya Syeikh Zayeed.

Kami terpukau saat mata kami bertemu dengan Masjid Zayeed secara langsung di luar pagar. Saat kami mencari pintu masuk, kami berjumpa dengan vokalis Armada, Rizal yang sedang berkumpul dengan keluarga di dekat pintu masuk Masjid Zayeed.

Kami meminta waktu untuk berfoto dan Rizal Armada berkenan untuk berfoto bersama. Bu Yuli-lah yang mengenali vokalis Armada tersebut dan yakin jika tidak salah orang. Selepas berfoto, kami memasuki pintu Masjid Zayeed. Terima kasih kepada Rizal Armada yang baik dan mau berfoto dengan kami. Beliau humble dan wangi!

Di depan masjid, terdapat banyak wanita penjaja plastik untuk membungkus alas kaki sebelum memasuki kawasan Masjid. Kami harus melepas alas kaki sebelum memasuki wilayah masjid. Untungnya, kami membawa tas untuk menyimpan alas kaki.

Kami bergegas memasuki masjid untuk menunaikan salat Isya. Sesampai halaman dalam Masjid, di sana nampak warga Solo duduk-duduk menikmati suasana. Bapak, ibu, serta anak bahkan kakek-nenek hadir dalam kerumunan keluarga.

Ada pula rombongan wisata  sibuk mengabadikan momen. Banyaknya pengunjung datang meski bukan hari libur. Lantai putih dengan banyaknya pohon hijau tertata rapi dengan menara indah berselimutkan cahaya biru. Terdengar suara azan memanggil dari pengeras suara bergema mengingatkan pengunjung untuk segera mengambil wudu. 

Kami berkeliling sebentar menyusuri serambi masjid. Berfoto bergantian seperti ciri khas ibu zaman now saat berada pada lokasi wisata. Ada kolam panjang di samping masjid yang terdapat tanda tidak boleh dimasuki oleh kaki jamaah agar selalu nampak jernih.

Di seberang kolam tersebut, terdapat tempat wudu di bagian luar yang bisa digunakan berwudu oleh jamaah laki-laki berbentuk bundar. Cahaya bulan semakin memperindah suasana masjid.

Kami mencari lokasi wudu wanita yang ternyata ada dua lantai di bawah bagian masjid. Kami menuruni tangga berlantai keramik. Bu Wiwid baru saja menunaikan ibadah haji di Mekkah berujar, “Tempat wudunya di bawah seperti di Masjidil Haram tetapi di sana menggunakan eskalator.”

Kami menemukan ruang berwudu di lantai bawah. Ruangan berwarna putih tersebut sangat luas. Pada tempat wudu ada tempat duduk yang mirip di Mekah sehingga Bu Wiwid langsung bergumam, “Mirip seperti di Mekah juga ini.”

Kami bergegas  berwudu untuk salat Isya. Saat selesai salat, kami diberi saran oleh penjaga masjid yaitu seorang wanita yang menggunakan seragam seperti Satpol PP untuk segera berkemas dan keluar karena ruang masjid akan digunakan untuk pengajian karyawan masjid. Mereka setiap bulan mendapatkan fasilitas untuk menyimak syiar agama. 

Kami berfoto di wilayah luar masjid sebelum beranjak meninggalkan ruangan. Saat itu ada segerombol ibu-ibu yang bisa mengarahkan foto dengan estetis. Ibu cantik itu bahkan bersedia memotret kami bertiga sesuai saran yang diberikannya.

Cara mengambil gambar hingga mode yang diambil hingga nampak menarik. Kami mengucapkan terima kasih kepada kumpulan Ibu-ibu tersebut yang mengajari kami. 

Setelah keluar dari lingkungan masjid Zayeed, kami memutuskan untuk menghabiskan malam di  Balai Kota Surakarta  pada momen tersebut ada festival makanan UMKM dan festival tari. Kami berangkat ke sana menggunakan aplikasi layanan daring. Kami sampai di sana dengan suasana meriah, terang, dan bersahabat. 

Pada bagian tengah ada balai berbentuk joglo. Sebuah bangunan yang bertuliskan Balai Kota. Pada lokasi tersebut, sedang ada festival tari. Pada bagian tengah, terdapat lapangan berumput yang di situ banyak warga dengan berbagai usia duduk bercengkrama bersama keluarga atau teman.

Malam minggu adalah malam yang menyenangkan untuk bergaul serta bersosialisasi dengan teman sekolah di sebuah tempat istimewa. Seperti apa yang kami lakukan pada malam terakhir kami di Solo. Teringat sebuah kisah dalam novel “Tunjung Biru” tentang malam midodareni1

Suasana pada malam itu seakan mendeskripsikan suasana keriaan saat ini saat kami melihat kedai makanan produk UMKM yang sedang digalakkan oleh Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Kedai itu di bagian luar lapangan berumput dengan warna merah menyala sebagai warna spanduk yang disediakan oleh panitia.

Sengaja kami berjalan menuju bagian luar dan masuk ke dalam mengamati setiap kedai. Ironisnya, lebih banyak makanan Korea dan China daripada makanan Indonesia. Hanya ada satu kedai yang menjual makanan Indonesia adalah kedai kudapan cenil dan getuk yang ditaburi kelap dan sedikit gula merah dengan harga Rp15.000.

Saya juga membeli eomuk dan rebusan khas Korea seperti remaja lain yang ada di sana. Berkeliling lagi ada pedagang yang menjual cumi dan sosis bakar. Minuman es pelangi, es teh jumbo, es rasa sirop buah, dan berbagai jenis minuman pun ada. 

Kami bertiga duduk di bangku dan menikmati suasana malam itu. Kami berjanji akan mengingat momen ini hingga nanti (bisa jadi) lima tahun ke depan kami bisa bertemu dan menikmati kebersamaan seperti malam ini.

Momen ini istimewa saat kita masih bisa berjalan kaki dalam waktu lama, dengkul masih kuat, masih bisa mencoba makanan apa saja, masih bisa menghirup udara dengan lancar, dan banyak hal yang kami syukuri.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==