Kulineran di Solo
Keesokan paginya, hari terakhir kami di Solo. Pesawat ke Jakarta pukul 12.00 siang dan kemarin kami sempat untuk web check in. Pukul 07.00, kami bertiga keluar dari Balai Besar Guru Penggerak untuk berangkat ke Pasar Ayu Balapan.
Pada kemarin malam, kami mencari tempat penitipan koper di google. Kami menemukan tempat yang sangat direkomendasikan dan rating bintang 4,8. Lokasi penitipan tepat di bawa tangga pasar Ayu yang lokasinya dekat stasiun Solo Balapan.
Setelah konfirmasi melalui pesan WhatsApp, kami merasa yakin setelah menanyakan biaya dan keamanan lokasi. Biaya per jam Rp8.000 dan koper ditempatkan dalam satu bidang konter lemari kabinet terbuka. Di sana ada empat orang yang menjaga selain petugas yang menerima pembayaran. Selepas kami menitipkan barang, kami menuju pasar Gede untuk berwisata kuliner dan menikmati suasana pagi di Kota Solo.

Kami memesan aplikasi layanan daring untuk mobil yang mengantar kami ke Pasar Gede, kami ingin merasakan dawet telasih mbok Dermi. Setelah memasuki depan pasar, kami langsung menuju ke lokasi tempat mbok Dermi. Saat melewati pasar yang berdesakan, kami bertemu dawet Hajah Siphon yang sudah ramai.
Sayangnya, saat kami telah sampai ke lokasi mbok Dermi, kedainya tutup. Kedai akan buka pukul 9 pagi. Kami langsung beralih tujuan balik ke kedai Hajah Siphon. Rupanya saat kami ke sana ada bangku yang kosong. Kami langsung menempati dan menunggu sebentar saja setelah memesan dawet telasih.
Dawet itu disajikan pada mangkok kecil. Santan, telasih, dawet hijau muda, es batu, dan gula jawa menyegarkan tenggorokan di pagi hari. Memang terasa dingin. Kami senang karen minum dawet di lokasi pasar yang ramai dan legendaris itu suasana terasa berbeda dan menyenangkan. Sejenak kami berfoto dan melepas penat sebelum mulai melangkah berkeliling kota Solo.
Selepas minum dawet, kami berkeliling di bagian depan pasar untuk membeli mainan anak-anak dari bambu, cenil, pisau, irus kayu, dan barang yang susah ditemui di daerah asal kami. Di depan, bu Yuli mampir di kaki lima penjual kembang tahu. Kami juga membeli lentho yang terbuat dari kacang dan tempe yang digoreng kering. Tidak lupa kami membeli baso kecil untuk bekal kami menyusuri kota Solo.
Kami melanjutkan perjalanan ke Benteng Vastenburg. Benteng ini ternyata tutup dan kami berfoto di depannya. Setelah itu, kami berjalan kaki menuju masjid Agung Kasunanan. Kami bertanya kepada orang sekitar kira-kira seberapa jauh. Mereka bilang antara 1 hingga 2 km.

Jadi kami merasa ragu untuk memesan mobil daring. Kami memutuskan berjalan kaki sambil menikmati suasana kota. Saat ada penunjuk arah yang unik, kami berfoto di tengah jalan dan dekat perempatan. Kami berfoto bergantian dengan instruksi dari bu Yuli yang pandai dalam mencari spot foto terbaik.
Kami berjalan kaki menyusuri jalan yang memiliki pohon beringin tinggi di kanan kiri jalan dan kami menikmati berjalan kaki hingga masjid Agung. Banyak bapak yang menawari becak tetapi kami memilih berjalan kaki agar bisa menikmati suasana pagi serta menghirup udara pagi yang mulai panas itu. Kami berhenti untuk membeli blangkon di toko kecil sebelum masjid.
Bu Yuli membeli blangkon ukuran balita Rp20.000 setelah ditawar. Sesampai Masjid Agung, kita langsung berfoto di depannya karena waktu sudah semakin dekat dengan jadwal penerbangan, kami mempercepat tujuan dengan berkunjung ke Kraton Kasunanan Solo. Kami tidak tahu lokasinya jauh atau tidak sehingga kami perlu bertanya ke beberapa orang yang dengan ramahnya menunjukkan jalan.
Kami menuju lokasi dengan berjalan kaki, kami sampai di sana pada pukul 09.30, itu adalah tujuan terakhirku sebelum berangkat ke Bandara. Terlalu lama di jalan yang tidak kami kenal, aku khawatir terlambat sampai di Bandara. Kami berfoto dengan abdi dalem selama tiga kali pemotretan dengan biaya Rp20.000.
Setelah itu, aku berpamitan dengan Bu Yuli dan Bu Wiwid karena harus balik ke Bandara. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Istana Mangkunegaran dan Kuliner Selat Solo. Aku balik ke Pasar Ayu untuk mengambil barang dengan total waktu titip dua jam Rp16.000 yang bisa dibayar dengan Qris. Setelah itu, aku memesan mobil layan daring ke Bandara Adi Soemarmo melewati jalan bawah karena sopir tidak membawa kartu tol selama 35 menit.

Sesampai di bandara, dengan sedikit terburu-buru karena khawatir waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Saya segera memasuki ruang tunggu dan sudah ada teman-teman dari Kantor Bahasa Provinsi Banten sedang menunggu datangnya pesawat juga. Alhamdulillah sampai tepat waktu karena ternyata waktu keberangkatan pesawat maju pada pukul 11.40 WIB.
- Malam itu dijuluki malam midodareni. Menurut kepercayaan, para bidadari di tengah malam turun ke marcapada untuk merestui sang pengantin. Bunga-bunga melati ditebarkan di muka pelaminan dan di dalam kamar pengantin di atas permadani-permadani. Gadis-gadis bermain domino. Ada pula yang bersibuk dengan teka-teki sehingga malam terasa lebih cepat berlalu. (Arti Purbani, Tunjung Biru, 1985) ↩︎

Traveling: Tayang setiap hari Jumat. Kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honorarium Rp100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


