Waktu itu salah satu hari sepulang kerja.
AC di dalam bus jemputan sepanjang jalan Anyer hingga ke Cilegon langsung hilang tak berbekas, terhapus oleh hawa lembab dan panas udara kota Cilegon ketika aku turun dari bus jemputan pabrik tempatku bekerja.
Seperti biasa, hawa dan lembab dan panas ini memang tipikal suhu dan kondisi udara sehari- hari di Cilegon dan daerah yang dekat dengan pantai dan daerah industri.

Turun dari bus jemputan, aku masih harus naik angkot lagi ke rumah kontrakanku.
Di dalam angkot, hawa panas dan lembab itu lumayan berkurang karena kuatnya angin dari pintu dan jendela angkot yang terbuka lebar, membelai deras wajahku dengan debu yang terbawa dari jalanan, disertai wanginya harum bensin dan solar yang beriringan, serta mengibar-ngibarkan rambutku.

Tak sampai lima belas menit, angkot berwarna ungu itu pun kuhentikan dengan satu kata sakti para penumpang angkot: “Kiri…!” Sopir itu pun dengan sigap menepikan angkotnya, dan tak lama kemudian dua lembar uang seribuan sudah berpindah dari sakuku ke dalam dompet sarung milik si supir.
Dari situ rumah kontrakanku masih lumayan jauh, kira- kira tiga ratus meter.
Berhubung hari itu tanggal dua puluh, jadi langkah kakiku agak sedikit lemah. Jadi setelah hampir sepuluh menit aku baru tiba di depan rumah tipe dua satu bercat serba abu- abu yang kukontrak dua ratus lima puluh ribu per bulan sejak dua tahun yang lalu itu.
Tadinya sih aku ingin mampir dulu ke warteg untuk membeli makan, tapi apa daya, karena sindrom tanggal dua puluh sudah sedikit parah, jadi uang di dompetku hanya tinggal dua ribu rupiah, dan itu pun sudah berpindah status menjadi milik si supir angkot yang tadi kutumpangi.
Hawa lembab dan panas itu ternyata belum hilang saja, karena memang tidak mungkin hilang, secara, di rumahku tidak ada ac. Ketika masuk rumah, bukannya hawa dingin yang kunikmati, malah hawa panas yang lebih menyengat keluar dari dalam rumah ketika kubuka pintu.
Langsung kelemparkan tubuhku ke atas kasur Palembang di dalam kamar. Aku ingin melepas lelah dan penat ini sejenak. Panas dan lembab aku lawan seadanya dengan menyalakan sebuah kipas angin, yang selalu menciptakan dilema di dalam hidupku. Jika dinyalakan, aku selalu masuk angin, tapi jika dimatikan aku tidak bisa menahan gerahnya efek panas dan lembab itu.

Tak sampai lima belas menit dan selepas adzan Magrib, aku beranjak untuk sholat dan berwudhu dengan air yang tersisa di bak mandi.
Bagaimana tidak, saat itu aku harus mencari- cari uang yang tersisa. Aku merogohi satu- satu saku celana dan bajuku yang sudah kotor. Tapi belum kutemukan juga uang lima ribuan, sepuluh ribuan, atau bahkan sekedar ribuan yang terkumpul dan nyempil di dalam saku.

“Gawat, bisa ngga makan nih malam ini!” Aku mulai panik. Dan perutku pun ikut panik dengan mengeluarkan sekilas bunyi musik keroncong, seolah mengiyakan.
Ketika sedang asyik mengumpulkan baju kotor dan merogoh- rogoh saku- sakunya, tiba- tiba di luar terdengar suara petir yang luar biasa kencang.
“Jelegeeerr….!!!”. Suara petir itu sontak membuat aku terkaget- kaget sampai hampir terloncat dari dudukku.
Hujan yang sangat deras turun tiba- tiba tanpa disertai gerimis.

Tapi tak kuhiraukan suara hujan itu, aku langsung fokus lagi untuk mencari uang yang tersisa untuk membeli makan malam. Hujan masih bisa ditanggulangi, tapi lapar? Masih bisa juga sih, tapi perutku sudah keroncongan, dan tadi siang di tempat kerja sibuk luar biasa. Aku harus makan segera.
Eh, tidak lama kemudian listrik mati.
Gelap gulitalah kamarku seketika.

“Waduh! Gimana mau nyari duit, gimana mau makan? Cemilan pun sudah habis!” Aku langsung mengutuk diri sendiri, kenapa tadi pake tiduran segala, bukannya langsung mencari uang. Kucek pulsa di hapeku pun sudah kosong total.
Aku pun langsung terduduk pasrah. Ya, ngga pasrah gimana, lha wong kamarku gelap gulita. Tangan sendiri pun tidak bisa kulihat.
Sambil duduk, aku masih berpikir positif, mungkin hujan ini bakal sebentar. Walaupun ada sisi lain dari diriku yang berpikir lebih logis, bahwa hujan seperti ini biasanya lama.
Dan benar saja, ternyata sampai beberapa jam, ternyata hujan itu belum berhenti. Posisi tidurku mulai menggelosor menjadi setengah tidur dan akhirnya aku pun terlentang tanpa tertidur dalam kegelapan.

Penderitaanku malam itu makin lengkap ketika tiba- tiba aku merasa sesuatu yang dingin mengalir di punggungku.
Ya Allah, banjir! Lengkap lah sudah penderitaanku saat itu. Kebanjiran dan kelaparan di tengah kegelapan.
Eh, ternyata belum lengkap, ada satu lagi yang melengkapi kejadian malam itu.
Tiba-tiba terdengar suara bercuit yang lumayan kencang dari arah dapur. Aku pun mulai panik karena aku yakin itu adalah suara wirog (wirog=tikus got yang besar). Kalau aku digigit bisa kena penyakit pes nih.

Aku tutup pintu kamar dan kubendung banjir sebisanya dengan apa pun yang ada di dekatku, walau pun tidak terlihat. Kupaksakan diriku untuk berbaring dekat jendela dan kubuka gorden lebar- lebar agar setidaknya ada cahaya yang masuk, walau pun hanya kelebatan petir.
Sejujurnya pada saat itu aku ingin menangis dan meratap. “Ya Allah, kenapa lengkap sekali kau beri aku penderitaan kali ini? Dosa apa aku?” kataku dalam hati.

Setelah itu aku langsung minta ampun, karena kupikir pasti ada hikmahnya dibalik penderitaan luar biasa, ah, sebenarnya sih tidak begitu luar biasa, hanya lumayan lengkap saja dan sangat menyedihkan.
Karena tidak kuat menahan lapar, dan keletihan, tidak terasa aku pun tertidur.
Ketika terbangun oleh suara adzan subuh, akhirnya listrik sudah menyala kembali dan banjir pun sudah surut, walau pun menyisakan lumpur tebal yang menumpuk di depan pintu kamarku.
Ya begitulah, tidak setiap saat di perantauan adalah kebahagiaan dan kesenangan. Bisa jadi kamu akan menghadapi kondisi seperti yang kualami tadi.


