Surat dari Qatar: Balas Dendam Yang Manis

Setelah sekolah saya termasuk anak yang sakit-sakitan. Tidak jauh dari gejala tipes dan demam berdarah. Alhamdulillah saya masih diberi umur dan kesehatan sampai tulisan ini temen-temen baca.

Setiap kali saya dirawat, yang saya minta ke Ibu yang perawat di rumah sakit tempat saya dirawat adalah buku. Lebih tepatnya majalah. Biasanya sih yang ibu belikan adalah majalah Bobo, majalah Siswa, atau komik paman Gober dan Donal Bebek. Kadang ibu membelikan majalah Humor (yang masih saya ingat hanya Legenda Sawung Kampret). Begitu juga ke keluarga yang membesuk, yang saya minta hanyalah majalah atau komik.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang jauh dari Youtuber atau inluencer zaman now, buku adalah keperluan tersier. Saya harus menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli buku yang saya suka di toko buku Gramedia. Kunjungan saya ke sana 99 persennya hanyalah melihat-lihat dan membaca buku atau komik yang sudah dibuka plastiknya. Itu pun harus langsung pergi kalau sudah diusir secara halus.

Ketika masih berseragam putih abu, jalan satu-satunya agar saya bisa membaca buku adalah ke perpustakaan dan meminjam ke teman. Karena saya jorok ketika membaca, jadi beberapa kali saya kena denda untuk mengganti buku yang halamannya terlipat, sobek, atau tercoret-coret oleh dua adik-adik saya dulu masih kecil. Sekarang mereka sudah punya anak kecil. Apalagi saya, yang paling besar sudah kelas 10. Sekilas info saja.

Berkaitan dengan baca buku, ada satu kejadian ketika saya masih berseragam putih abu-abu, yang menjadi bukti bahwa manusia memang bisa memaafkan, tapi sangat susah untuk melupakan.

Ketika itu ada salah seorang teman sekolah yang lumayan kaya, dan dia juga sering membawa bacaan-bacaan keren ke sekolah. Biasanya sih dia meminjamkan buku-buku keren itu ke teman-temannya dan yang dia kenal, termasuk saya. Eh, ketika buku itu kembali ke pemiliknya, salah satu bagiannya ada yang sobek. Entah memang salah paham atau bagaimana, saya yang menjadi tertuduh utama. Karena saya tidak merasa merusak buku itu, saya agak melawan. Tapi dia mempunyai bukti yang kuat kalau ketika buku itu rusak ketika saya yang membaca selama seminggu.

Walau pun saya menawarkan untuk mengganti buku itu, tapi dia tetap menolak dan masih memasang muka kecut dan merengut setiap saya bertemu dengannya.

Sebagai seorang pria harga diri saya benar-benar hancur waktu itu. Karena sejujurnya walau pun dia mau menerima tawaran saya, tapi di dalam hati saya berpikir berapa lama saya harus menabung untuk bisa membeli buku yang mahal itu?

Akhirnya kami bisa berdamai dan bersikap biasa lagi satu sama lain sampai lulus sekolah.

Walau pun saya tidak bisa melupakannya dengan bisa hadirnya tulisan ini di feed temen-temen. Hehehe.

Tapi sejak kejadian itu, saya berniat dengan sungguh-sungguh dan tekad yang kuat dan bulat untuk segera menyatakan perasaan saya kepada temannya si pemilik buku yang sudah saya taksir sejak hari pertama sekolah, eh, loh? Salahhh… Wkwwkwk.

Bukan,bukan itu maksudnya, maaf saya terbawa audio instagram reel yang sedang viral.

Sejak kejadian itu saya berazam dan berdoa agar suatu saat kelak jika ingin membaca buku, tidak sampai harus meminjam ke teman atau perpustakaan. Saya harus bisa membeli sendiri!

Alhamdulillah ketika bekerja ke Cilegon, doa itu mulai terkabul. Saya tidak hanya menjadi pembaca, tapi menjadi pengedar, eh, maksudnya penjual buku-buku di lingkungan pergaulan saya di tempat kerja dan lingkungan tempat tinggal saya. Lumayan, untungnya bisa untuk membeli buku lagi.

Ketika saya akhirnya hijrah ke Qatar, Allah mengabulkan doa saya dulu dengan luar biasa. Salah satu hal pertama yang saya beli adalah komik-komik impian yang tidak pernah mampu saya beli ketika masih berseragam putih merah sampai putih abu-abu. Kurang lebih 50 Kilo penuh padat dengan komik Kenji, Tiger Wong, Legenda Naga, Tapak Sakti, Tapak Sakti Legend Continues, Dragon Ball dan buku-buku impian lainnnya tiba-tiba datang kerumah orang tua di Bandung. “Balas Dendam” yang manis.

Jadi ketika temen-temen melihat feed saya yang berisi buku yang melimpah, itu tidak langsung tiba-tiba menumpuk sebanyak itu. Itu adalah semacam “kristalisasi keringat dan impian serta dendam” sejak saya masa kecil. Karena kegilaan membaca itu pula akhirnya saya bisa menjadi penulis yang lumayan manis ketika masih bersisir kelimis. Mimpi yang kembali menjadi kenyataan.

Pengetahuan yang saya serap dari buku-buku itu seperti tumpah ruah berebut ingin dijadikan buku.

Ya begitulah Allah mengabulkan impian manusia dengan cara yang tidak terduga dan kadang jauh dari jalan yang menyenangkan.

Sejak di Qatar pula saya tidak suka pergi ke perpustakaan untuk membaca. Karena sekarang insyaallah saya bisa membeli buku apa pun yang saya inginkan. Dengan catatan ada lembur dan uang lebih, karena ongkos kirim ke Qatar seringkali lebih mahal dari bukunya. 😀

Sekarang saya ke perpustakaan di Qatar untuk membuat konten atau foto saja, euh, maksudnya untuk menulis naskah-naskah buku saya yang mulai terbengkalai.

Jadi: “Ngerti sekarang? Ngerti doong, masa ngga ngerti?”

Maaf, lagi-lagi audio instagram reel yang viral juga itu terngiang-ngiang ketika tulisan ini sedang meluncur ke feed temen-temen.

Doha, 21 Agustus 2022
Menjelang tengah malam.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==