Dokter Li ini adalah dokter yang sudah merawatku sejak bayi. Tongkrongannya sih menurutku lebih mirip ahli kungfu. Tubuh yang tinggi besar, tatapan mata yang tajam, serta sepasang tangan yang kokoh tidak menampakkan kalau dia sudah berumur lebih dari 80 tahun (kata ibuku sih). Tadinya sih aku tidak percaya, sampai kulihat dia setiap tahun selalu mengikuti acara lomba lari 10 kilometer yang diadakan oleh rumah sakit tempat ibuku bekerja. Dan tidak hanya sekadar berpartisipasi, dokter Li betul- betul berlomba dengan peserta yang lain.

“Aa, ayo, itu sudah dipanggil sama dokter Li!” Tak sampai lima menit, aku sudah dipanggil oleh ibu ke dalam ruangan dokter Li.
Ketika aku dan Ibu memasuki ruangan, kulihat dokter Li sedang membolak- balik lembar demi lembar hasil testku di rumah sakit Cilegon.
“Semoga tidak ada yang serius..” Gumamku perlahan.

“Tolong suruh anak kamu tiduran di ranjang periksa..!” Kata dokter Li sambil menyimpan setumpuk kertas dan hasil X-Ray dan USGku di atas meja kerjanya yang mungil.
Tak berapa lama, dokter Li menghampiriku dan memegang pergelangan tanganku. Persis seperti adegan ketika Wong Fei Hung memeriksa denyut nadi muridnya yang cedera. Dan ternyata hanya itu saja yang dia lakukan.

Aku heran.
Kali ini dia sama sekali tidak menggunakan stetoskopnya, apalagi melakukan pemeriksaan gejala usus buntu seperti dokter di Cilegon.
Seperti biasanya, dokter Li hampir tidak pernah bicara secara langsung kepadaku, selalu saja dia berbicara kepada ibuku.

“Gimana Dok, anak saya kenapa?” Tanya Ibuku penasaran.
Dokter Li, tidak menjawab. Hanya matanya saja yang menatapku tajam, tapi segurat senyum tiba- tiba terbit di ujung bibirnya, walau pun tidak sampai bisa mengangkat pipinya yang sudah keriput dimakan umur.

“Neng, anak maneh mah lain gering apendisitis, mun henteu keur patah hati, pasti keur hayang kawin..!” Katanya dengan kencang, sambil tiba- tiba tertawa terkekeh- kekeh dan setengah melemparkan tumpukan dokumen hasil testku di Cilegon ke arah aku dan ibuku.
(Neng, anak kamu itu bukannya sakit apendisitis/usus buntu, kalau ngga lagi patah hati, pasti dia lagi pengen kawin..!)

Hadeuuh, dari mana dokter Li tahu kalau sejak seminggu yang lalu aku sedang galau karena gadis yang kucintai dinikahi sama orang lain ya? *



