Surat dari Qatar: Hidup tak Seperti yang Ada di Media Sosial

            Teman-teman dan kerabat biasanya menyangka kalau kehidupan seorang ibu rumah tangga di luar negeri itu enak sekali.

            Gaji suami besar, ke mana-mana menyetir mobil mewah, rumah besar, dan kehidupan seperti raja dan ratu, persis seperti kehidupan di sinetron.

            Tapi ternyata tidak.

            Kemewahan hidup dan kebahagiaan dunia yang mereka impikan itu ternyata berharga sangat mahal.

Seorang istri dan ibu rumah tangga di perantauan membayar kebahagiaan dan kesenangan itu dengan harga yang jauh lebih mahal dibanding suaminya.

Sebagai pekerja shift dua belas jam, itu sangat melelahkan.

            Dari rumah ke tempat bekerja jaraknya 86 kilometer. Jika sedang shift pagi, aku sudah harus berangkat dari rumah pukul empat pagi lebih sedikit. Dan baru tiba lagi di rumah hampir jam delapan malam.

            Walau pun sudah aku bantu dengan madu dan berbagai macam suplemen, tapi tetap saja dengan jadwal kerja seperti itu tidak akan ada orang yang akan bisa segar bugar.

            Apalagi jika sedang shift malam. Ketika pulang kerja tubuh aku sudah tidak bisa diajak melakukan apa pun. Tiba di rumah pun aku hanya sempat mandi, sarapan, tidur sampai menjelang sholat Ashar. Jam empat sore sudah harus berangkat bekerja lagi.

            Tapi, ternyata kelelahan dan keletihan yang aku rasakan itu tidak seberapa dibanding dengan kelelahan dan keletihan yang istriku rasakan.

            Bayangkan saja,selama tujuh hari, dia harus bangun jam setengah empat pagi. 

            Lalu dia harus menyiapkan dua menu masakan unuk sarapan dan makan siang,  karena kantin di pabrik harus ditutup sementara untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

            Belum lagi dia harus menyetrika seragam kerja yang bahannya khusus. Lebih susah untuk dicuci dan lebih penuh perjuangan untuk disetrika.

            Tidak terbayang juga seperti apa kelelahan yang dia rasakan seharian di rumah.

            Anak-anak masih harus belajar dari rumah karena sejak Maret sekolah sudah ditutup oleh pemerintah. Jadi istri pun harus menyiapkan komputer, buku dan lain sebagainya untuk keperluan anak-anak.

            Setelah pastinya kelelahan memasak makan siang untuk tiga anak-anak, tentunya pekerjaan masih belum selesai.

            Walau pun anak-anak sudah mulai membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring dan beres-beres rumah, tetap saja masih ada yang harus istriku kerjakan sendiri.

            Ketika membuka pintu setelah hampir 16 jam berada di luar rumah, ruang tamu sudah selalu rapi resik bersih, dan kamar tidur sudah harum dengan baju tidur untukku sudah dia siapkan.

            Itu pun mungkin tidak seberapa ketika dia melahirkan anak kedua dan ketiga yang lahir di Qatar.

            Baru tiga hari tujuh lapis kulit perutnya disayat, dia sudah memaksakan diri untuk ke dapur menyiapkan makanan dan bersih-bersih.

            Walau pun karena memang terpaksa karena kondisi dan jadwal kerja aku yang tidak memungkinkan untuk membawa keluarga aku atau dia untuk membantu kami di sini setelah kelahiran, tapi aku sungguh mengagumi kesabaran dan ketahanan istri aku.

            Alhamdulillah, dengan pertolongan dari Allah, secara luar biasa istri pulih lebih cepat dari luka dan sakit bekas Operasi caesarean itu.

            Berumahtangga di perantauan benar-benar melatih kemandirian semua anggota keluarga.

            Kami harus bahu membahu mendidik anak dan mengurus rumah.

            Ya setiap kesenangan dan kebahagiaan selalu ada pengorbanannya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==