Surat dari Qatar: Jangan Sepelekan Cuaca


Alangkah kagetnya aku ketika menginjakkan kaki pertama kali di Cilegon. Kota ini hampir tidak ada pisan sejuk-sejuknya, sepanjang hari selalu panas dan lembab.

Jika di Bandung, sepulang sekolah dan kita tiba di depan rumah , selalu ada momen khusus. Momen paling berkesan dan melegakan, ketika membuka pintu, karena langsung terasa kesejukan yang luar biasa yang menghambur dari dalam rumah, seperti AC di kantor cabang Bank. Sejuk menghembus lembut ke muka kita menghilangkan keletihan setelah berada di sekolah seharian.

Di Bandung, sepanas apapun cuaca di luar, air di bak mandi akan tetap selalu dingin. Setiap sehabis mandi, kita akan mendapatkan kesegaran luar biasa. Seletih apa pun badan kita, akan langsung terasa bersih, segar bugar, sehat wal afiat, dan joss lagi.

Di Cilegon, setelah seharian dimarahi dan dilengkapi dibentak- bentak, dan tak lupa sedikit bonus “hujan loKal”, sama bos yang orang Jepang, sangat bertolak belakang dengan di Bandung.

Hati yang sudah panas, badan yang sudah letih, seketika langsung bertambah panas. Karena ketika membuka pintu rumah, wuusssss, udara panas langsung menghembus dari dalam rumah kontrakanku itu. Hampir tidak jauh berbeda panasnya ketika kita membuka rice cooker. Maklum, dengan posisi teknisi junior, gajiku belum mampu untuk membeli ac dan membayar tagihan listrik yang pasti berlipat- lipat jika ada ac.

Itu baru membuka pintu saja. Believe it or not, ketika mandi, ternyata airnya hangat.
Sehabis mandi bukannya seger, tapi malah makin gerah. Hanya daki dan keringat saja bisa hilangkan dari tubuh kita, selebihnya, hanya kegerahan. Kipas angin sedikit menolong sih, tapi kalau lupa dimatiin, alhasil dijamin besoknya aku langsung masuk angin dan batuk pilek. Lengkap deh pokoknya mah! Panasnya poll..

Selama hampir tujuh tahun di Cilegon, Alhamdulillah aku bisa beradaptasi dengan semua hal, pekerjaan baru, makanan, budaya Banten, bahasa Banten, kultur kerja orang Jepang, dan hampir semua hal. Hanya satu hal yang masih belum bisa kutanggulangi, bahkan sampai aku meninggalkan kota itu, yaitu cuaca panas dan kelembaban tinggi sepanjang tahun.

Setelah pindah ke Qatar pun, tidak pernah kusangka, tak pernah kuduga, dan tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau ternyata aku akan menghadapi panas dan lembab yang luar biasa. Ya iya lah, secara, aku tiba di Doha bulan Januari. Di sini masih musim dingin.
Ternyata kita salah kostum! Kita malah siap-siap untuk musim panas, jadinya ya tidak bawa jaket. Di pikiran kita Negara Timur Tengah ya pasti panas mentereng. Dan pula tidak ada seorang pun yang memberi infokalau di Arab juga ada musim dingin.

Padahal mah memang sedikit kurang info, karena sejak menginjakkan kaki di pesawat yang menari- nari di pikiran, dan menggantung di hati, serta terpencet-pencet di kalkulator cuma “gaji Qatar”, “gaji Qatar”, “gaji Qatar”.

Tidak seperti di Eropa, musim dingin di Qatar tidak sampai menurunkan salju. Tapi hanya hawa dingin menusuk sampai 6 derajat Celcius.

Buat aku sekeluarga tidak ada kendala yang terlalu sulit untuk melewati musim dingin ini.
Kecuali harus selalu menyalakan pemanas air untuk mandi, pemanas ruangan.
Dan jika keluar rumah ya serasa jadi menjadi model peragaan busana.

Karena hanya di sini aku bisa memakai blazer tebal atau jeket tebal, dilengkapi dengan syal yang kadang menutupi wajah untuk menghalangi terpaan tajam angin musim dingin.
Musim dingin juga bagi penduduk Qatar adalah musim kemping dan musim mancing.

Di akhir pekan atau bahkan hari biasa, daerah ujung Selatan yang bernama Sea Line dan pantai-pantai lainnya akan penuh dengan caravan, truk, atau hanya sekadar tenda.
Inilah waktu yang tepat untuk bersenang senang bersama keluarga di luar rumah.

Kembali ke pembahasan musim panas, aku tutup dengan dua kalimat untuk menggambarkan kondisi panas di dua kota yang pernah aku tempati selama beberapa tahun, dengan standar kondisi iklim di kota Bandung.

Kalau ingin tahu iklim Cilegon seperti apa, bayangkan saja tengah hari di Bandung, sodara-sodara duduk di teras, sambil ngakeul nasi (mengaduk-ngaduk nasi yang baru diangkat dari rice cooker atau penanak nasi).

Yang paling dramatis jelas di Qatar dong!

Jika ada yang nanya seperti apa Qatar di puncak musim panas, ini jawabannya.
Bayangkan diri kamu tengah hari bolong yang sedang berada di terminal bus. Kamu berdiri di belakang knalpot bus Damri yang baru memasuki terminal. Kamu tidak diam, tapi kamu juga sedang mengipas-ngipas nasi mengepul yang baru saja dipindah dari penanak nasi. Ditambah dengan teman kamu yang meniupkan pengering rambut yang menyala ke muka kamu, dan pasir yang ikut nimbrung dengan angin panas tadi.

SONY DSC

Sejak berangkat dari kampung halaman ke perantauan, bekali diri kamu dengan obat-obatan untuk pertolongan pertama. Siapkan baju yang sesuai dengan cuaca dan musim setempat ketika kamu tiba agar tidak terkaget-kaget dan gagap cuaca seperti aku dan teman aku tadi.

Karena perbedaan cuaca kadang bisa merepotkan untuk sebagian orang. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==