Cilegon
Ketika memberi tahu orang tua kalau aku diterima bekerja di Banten, mereka langsung menolaknya.
Bahkan ketika memberi tahu kalau aku sudah langsung menandatangani surat pra kontrak kerja, dan hanya tinggal melakukan tes kesehatan.

Tidak pernah kuduga sebelumnya kalau aku bisa lolos tes tulis dan wawancara ketika beberapa orang rombongan dari sebuah perusahaan petrokimia di Cilegon datang ke sekolahku.
Bahkan hari itu juga mereka memintaku dan empat temanku yang mendapatkan nilai tertinggi, baik tes tulis dan tes psikologi dan wawancara, untuk langsung menandatangani kontrak. Pada waktu itu sih, tanpa pikir panjang langsung kububuhkan tandatanganku di atas selembar kertas kontrak yang berisi angka dengan jumlah tak terbayangkan seumur hidupku.

Beberapa bulan sebelum kelulusan sih, aku dan orang tua memang seperti sepakat kalau setelah lulus dari SMK, aku harus mengenyam bangku kuliah dulu. Tujuannya pasti baik, agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Aku berargumen dengan kilas balik ke riwayat aku mereka daftarkan ke sekolah kejuruan Analis Kimia.
Sekolah yang sangat berat.
Secara harfiah mereka memaksaku ke sekolah itu.

Sehingga karena aku kurang maksimal menjalani sekolah yang luar biasa ketat itu, aku sampai tinggal kelas.
Aku habiskan sekolah di SMK itu sampai 5 tahun dari seharusnya 4 tahun.
Aku mengingatkan mereka lagi jika waktu itu tujuan mendaftarkanku karena lulusan sekolah itu dijamin mudah bekerja.
Dan hari itu telah tiba.
Pekerjaanlah yang benar-benar mendatangiku, bukan sebaliknya.
Dan aku tunjukkan gaji yang akan kuterima di Banten. Nilai gaji yang pada saat itu sudah jauh lebih besar dari gaji bulanan ayahku di pabrik pesawat terbang.
Dan aku ungkap keraguan bahwa mereka bisa membiayai kuliahku sampai lulus nanti.
Aku ungkap bagaimana hampir setiap ujian akhir semester/Catur Wulan, aku selalu harus meminta dispensasi kepada pihak sekolah karena pembayaran SPP tertunda.
Awalnya mereka masih bersikeras menahanku agar tidak pergi.
Mereka akhirnya luluh, ketika aku berkomitmen untuk di Banten kelak akan menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana seperti yang aku janjikan dahulu.
Mereka pun melepasku di terminal Leuwipanjang. Dari jendela bus antar kota berwarna kuning kehijauan pun aku dilepas dengan air mata dan pandangan penuh harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Qatar
Orang tuaku tadinya sangat menentang keputusanku untuk berangkat ke Qatar.
Cilegon pun yang jaraknya tidak sampai 250 kilometer sudah terasa terlalu jauh.
Apalagi merantau ke Qatar yang berjarak ribuan kilometer, naik pesawat pun perlu delapan jam.

Adu argumen dan tarung pendapat antara aku dan orang tua berlangsung sampai beberapa hari.
Kali ini memang berbeda dengan kasus aku merantau ke Banten.
Uang memang bukan segalanya, tapi jujur aja deh, kalau hampir semuanya di dunia ini membutuhkan uang.
Aku pakai jurus itu lagi untuk meluluhkan hati orangtuaku.
Aku tunjukkan lagi angka Qatar Riyal yang setara dengan puluhan juta rupiah di atas surat kontrak kerjaku.
Aku jelaskan ini bukan melulu hanya tentang uang. Tapi uang bisa membantuku untuk lebih bermanfaat untuk keluarga dan orang lain.
Mereka akhirnya luluh, ketika aku menyebutkan mimpi- mimpi terbesarku untukku dan keluargaku: mereka.

Aku bilang sampai kapan pun aku tidak mungkin akan bisa membelikan mereka rumah yang lebih layak ditinggali dibanding rumah yang sering kebanjiran itu. Aku bilang aku tidak akan bisa mengirim mereka untuk naik haji. Aku bilang, aku tidak mungkin bisa membiayai kuliah kedua adik kembarku. Bahkan aku tidak mungkin bisa bermimpi untuk bisa membeli rumah sendiri atau menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mungkin melakukan semua itu jika hanya mengandalkan gajiku yang pas-pasan. Aku jelaskan kepada mereka bahwa semua itu hanya mungkin kulakukan jika aku menerima gaji puluhan juta di perusahaan Qatar itu.
Bapak dan Ibu pun luluh dan bisa mengiyakan.
Akhirnya pertengahan Januari 2008, dengan diiringi oleh kilau air mata mereka yang tak henti-hentinya mengalir, akhirnya aku mulai perantaukanku 6000 kilometer ke arah Barat.
Bukan perjuangan dan perjalanan mencari kitab suci seperti Sun Go Kong, tapi perjalanan meraih mimpi-mimpi yang semakin tinggi. *



