Ini adalah kutipan penjelasan tentang Santri Siap Guna dari website pesantren Daarut Tauhid Bandung:

“Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, pada awal pendiriannya dicetuskan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada tanggal 25 April 1999 yang pendekatan visinya lebih dititikberatkan sebagai pelayan masyarakat baik di bidang dakwah, ekonomi, maupun soslal kemasyarakatan.
Selaln itu, Santri Siap Guna juga disiapkan sebagai sarana pengkaderan dan pembinaan generasi muda mandiri yang mampu untuk menjadi motivator, stabilisator dan integrator bagi masyarakat. Santri Siap Guna Menuju Generasi Ahli Dzikir, Ahli Pikir, dan Ahli Ikhtiar.”
Ketika itu aku masih kelas tiga seragam putih abu-abu, dan mulai mendengarkan ceramah- ceramah Aa Gym yang terdengar sangat “menyenangkan dan menenangkan”, tidak penuh retorika seperti para ulama-ulama yang biasa aku dengarkan atau lihat sebelumnya.
Ini linknya:
Setelah beberapa bulan, aku pun mulai rutin mendatangi kajian di pesantren Daarut Tauhiid di Geger Kalong. Sejujurnya, itu pun karena diajak oleh teman-teman sebaya di lingkunganku yang memang sudah lebih dahuu mengenal Aa Gym. Dan juga, ternyata ada “motivasi plus”. Kata mereka sih, cewek-cewek berjilbab yang cantik-cantik, atau kita sering menyebut mereka sebagai Akhwat-akhwat Ceria. Dasar anak sekolah!

Aku putuskan untuk mendaftarkan diri, walaupun sih, awalnya hanya sekadar ikut-ikutan teman. Toh, pendaftarannya masih gratis, aku tidak akan merugi apa-apa selain waktu.
Kegiatan selama pelatihan itu sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kurikuler di sekolah. Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa. *
(Tulisan inu dimuat di buku “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?”, Penerbit One Peach Media, 2021)



